Ensiklopedia

Mengenal Oedin, Ulama Kurai Taji yang Menjadi Wali Kota Sawahlunto Pertama

×

Mengenal Oedin, Ulama Kurai Taji yang Menjadi Wali Kota Sawahlunto Pertama

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Rekam jejak kepemimpinan di awal berdirinya Republik Indonesia banyak diwarnai oleh sosok-sosok yang mengombinasikan kedalaman ilmu agama dengan prinsip perjuangan yang kuat.

Salah satu figur pamong sejati yang memiliki kontribusi besar dalam menata tatanan sosial kemasyarakatan di Sumatera Barat adalah Oedin, ulama bergelar Datuak Rajo Nan Sati yang juga dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah lokal.

Lahir di Kurai Taji pada Agustus 1907, Oedin tumbuh besar dalam lingkungan religius yang kental di Padang Pariaman.

Langkah pengabdiannya di dunia pergerakan makin mantap saat ia bergabung dan aktif membesarkan organisasi Muhammadiyah di tanah kelahirannya.

Pelopor Muhammadiyah dan Kiprah di Masa Revolusi

Perjalanan profesional dan intelektual Oedin dimulai sejak usia muda. Demi memperdalam khazanah keislaman, ia berguru langsung kepada ulama besar Sumatera Barat, Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Ketekunannya dalam menuntut ilmu melahirkan gerakan nyata di tengah masyarakat. Pada 25 Oktober 1929, Oedin bersama rekan-rekannya resmi memelopori berdirinya Muhammadiyah Cabang Kurai Taji.

Baca Juga  Jemaah Haji Asal Sawahlunto Wafat di Makkah Jelang Armuzna

Tidak hanya bergerak di bidang keagamaan, Oedin juga terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ketika gelombang revolusi fisik memuncak pada tahun 1949, ia terjun langsung ke medan perjuangan politik demi menjaga kedaulatan republik di tanah Sumatra Barat.

Menjadi Wali Kota Pertama Hingga Pemimpin Lintas Daerah

Karier birokrasi Oedin mencatatkan titik balik penting pada tahun 1950. Pemerintah pusat mempercayai kapasitas kepemimpinannya dan mengangkat beliau sebagai pegawai tinggi di tingkat provinsi.

Amanah sejarah yang paling monumental terjadi pada Mei 1950, saat Oedin resmi dilantik sebagai Wali Kota Sawahlunto yang pertama dalam sejarah kota tambang tersebut.

Setelah sukses memimpin Sawahlunto, reputasinya yang makin diakui membuat Oedin ditarik untuk diperbantukan sebagai patih di dua wilayah, yakni Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Tanah Datar.

Baca Juga  79 Siswa MTsN 1 Pauh Pariaman Diduga Keracunan MBG

Kapasitas kepemimpinan Oedin tidak hanya teruji di ranah Minang, tetapi juga di luar provinsi. Beberapa posisi kepala daerah yang pernah diembannya antara lain:

  • Bupati Indragiri Hulu (Riau): Dijabat mulai Oktober 1952.
  • Penjabat Sementara Bupati Tanah Datar: Dipercaya kembali ke Sumatra Barat pada akhir tahun 1953.
  • Bupati Pesisir Selatan Kerinci: Dilantik pada Oktober 1954.

Akhir Pengabdian Sang Pamong

Perjalanan birokrasi Oedin sempat melewati fase titik rendah saat ia harus menyelesaikan masa-masa pengabdian eksekutifnya di tengah situasi politik nasional pasca-kemerdekaan yang kian bergejolak.

Setelah menuntaskan seluruh tugas besarnya kepada bangsa dan negara, Oedin memilih menghabiskan masa tuanya secara tenang bersama sang istri tercinta, Rahmadani.

Tokoh ulama sekaligus birokrat teladan ini akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada 17 Juni 1984.

Jasad Datuak Rajo Nan Sati kini dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta. (*)