Ensiklopedia

Diniyah Simpang Benteng, Panggung Orasi dan Lokasi Penangkapan HR Rasuna Said Tahun 1932

×

Diniyah Simpang Benteng, Panggung Orasi dan Lokasi Penangkapan HR Rasuna Said Tahun 1932

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Kawasan Diniyah School Simpang Benteng, Payakumbuh, berdiri sebagai salah satu saksi bisu paling krusial dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Di lokasi yang berhadapan langsung dengan benteng pertahanan kolonial (Fort) tersebut, pahlawan nasional Hajjah Rangkayo (HR) Rasuna Said ditangkap secara dramatis oleh intelijen Belanda usai membakar semangat ribuan massa.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 3 November 1932. Rasuna Said, tokoh perempuan pergerakan dari Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), tampil memimpin rapat umum yang dihadiri ribuan warga yang memadati halaman hingga area jalanan Payakumbuh.

Dengan oratorisnya yang tajam, Rasuna mengecam penderitaan rakyat akibat sistem imperialisme dan menyerukan pentingnya kesadaran politik menuju Indonesia merdeka.

Baca Juga  Peluang Hamil bagi Wanita PCOS dan Cara Mengelolanya

Kagum sekaligus gentar melihat antusiasme massa, agen polisi rahasia Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst/PID) yang mengawasi lokasi beberapa kali melakukan interupsi.

Namun, Rasuna yang dijuluki “Singa Betina Minangkabau” tersebut bergeming dan terus melanjutkan orasinya.

Melihat situasi yang semakin bergejolak, aparat bersenjata lengkap bergerak mengepung podium.

Tepat di depan sekolah Diniyah Simpang Benteng, Rasuna Said beserta rekan perjuangannya, Rasimah Ismail, ditangkap dan dibawa ke tahanan Payakumbuh.

Pada 5 Januari 1933, Rasuna dihadapkan ke meja hijau di pengadilan Landraad Payakumbuh.

Pemerintah kolonial menjatuhkan tuduhan pelanggaran spreekdelict (delik mimbar) serta vergaderverbod (larangan berkumpul) atas tuduhan menghasut rakyat.

Baca Juga  Wisata SAKU TABA Payakumbuh Gerakkan Ekonomi dan UMKM Masyarakat

Putusan pengadilan tersebut berlanjut pada pembuangan Rasuna ke Penjara Bulu, Semarang, menjadikannya wanita Indonesia pertama yang dipenjara akibat delik mimbar.

Kaitannya dengan Jejaring Pergerakan Minangkabau

Langkah berani Rasuna Said di Payakumbuh tidak terlepas dari solidnya lingkaran aktivis intelektual Minangkabau pada era 1930-an.

Pergulatan pemikiran radikal anti-kolonial ini juga berjejaring erat dengan para tokoh besar di Sumatra Barat, termasuk pusat-pusat diskusi pergerakan seperti Kediaman Bung Hatta di Bukittinggi.

Keberanian HR Rasuna Said di Diniyah Simpang Benteng kini diabadikan sebagai simbol kekuatan pers dan representasi pergerakan perempuan Indonesia dalam mematahkan belenggu penjajahan. (*)