SERUNI.CO – Sektor pariwisata berbasis kebudayaan kini menjadi instrumen utama yang terus dioptimalkan Pemerintah Kota Payakumbuh demi mendongkrak perekonomian masyarakat lokal.
Strategi ini diwujudkan secara nyata melalui peluncuran program bulanan bertajuk Sawah Padang Aua Kuniang Tujuan Wisata Budaya dan Adat (SAKU TABA), sebuah inisiatif yang menyinergikan proteksi tradisi asli daerah dengan penguatan kapasitas para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pelaksanaan agenda yang dipusatkan di Kelurahan Sawah Padang Aua Kuniang (Sapaku) pada Ahad (31/5/2026) tersebut dibuka secara resmi melalui tradisi pacu itik.
Prosesi pembukaan ditandai dengan pelepasan satu ekor itik oleh Wakil Wali Kota Payakumbuh, Elzadaswarman.
Saat membacakan amanat Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta, Wakil Wali Kota Elzadaswarman menyampaikan bahwa eskalasi pada sektor pariwisata dan kebudayaan merupakan langkah strategis dalam mengokohkan ketahanan finansial warga di tengah himpitan tantangan ekonomi yang tengah melanda berbagai wilayah.
Menurutnya, pemulihan finansial publik tidak boleh terpaku hanya pada sektor formal. Pemerintah daerah harus jeli melihat peluang dengan memaksimalkan seluruh potensi adat, destinasi wisata, serta produk lokal.
Lebih lanjut, Elzadaswarman menjelaskan bahwa implementasi program berkala seperti SAKU TABA memegang peran ganda.
Selain menjadi wadah produktif untuk merawat eksistensi tradisi leluhur, aktivitas ini juga efektif memicu stimulus bisnis baru, mendatangkan pelancong, sekaligus memutar roda ekonomi di tingkat kelurahan.
“Ekonomi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Karena itu kita harus mampu memanfaatkan potensi yang kita miliki. Salah satunya dengan memberdayakan masyarakat melalui UMKM, pariwisata, dan budaya lokal yang ada di daerah,” kata Elzadaswarman.
Berdasarkan pandangannya, seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, harus jeli menangkap momentum kegiatan adat ini sebagai peluang riil untuk merintis usaha sekaligus memosisikannya sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan.
Kelurahan Sapaku, khususnya pada wilayah Aua Kuniang, dinilai memiliki modal kultural yang sangat kuat melalui eksistensi tradisi pacu itik serta komoditas kuliner gulai itik lado hijau.
Daya tarik spesifik inilah yang selama ini memikat para wisatawan untuk berkunjung ke Kota Payakumbuh.
“Selain itu kelurahan Sapaku memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai kawasan wisata budaya karena didukung sejumlah destinasi yang telah dikenal masyarakat, seperti Gadih Angik, Panorama Ampangan, dan Puncak Batu Barigi” Lanjut Elzadaswarman.
Ia menambahkan, konsistensi dalam menyelenggarakan kegiatan kebudayaan secara periodik dipastikan mampu memperkuat magnet pariwisata regional sekaligus memicu lahirnya ekosistem ekonomi baru bagi warga lokal.
“Harapan kita SAKU TABA mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan menumbuhkan ekonomi masyarakat. Ketika orang datang berkunjung, pelaku UMKM memperoleh manfaat dan roda perekonomian masyarakat ikut bergerak,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Payakumbuh di bawah garis kepemimpinan Wali Kota Zulmaeta bersama Wakil Wali Kota Elzadaswarman berkomitmen untuk terus memfasilitasi dan menstimulus hadirnya berbagai pergelaran budaya yang berdampak linier terhadap penguatan finansial masyarakat.
“Ini adalah budaya yang harus kita jaga dan lestarikan. Jika dikelola dengan baik dan dikembangkan secara kreatif, budaya dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Lurah Sawah Padang Aua Kuniang, Deop Darius, mengungkapkan bahwa cetusan program SAKU TABA murni berakar dari aspirasi kolektif masyarakat yang mendambakan kelestarian adat lokal sekaligus ingin mempromosikan peta potensi kelurahan kepada publik luas.
“Kelurahan Sapaku berada di jalur wisata Batu Barigi, Gadih Angik, dan Ampangan. Kami memiliki budaya lokal yang perlu terus dilestarikan dan dipublikasikan kepada masyarakat umum,” katanya.
Deop menegaskan bahwa tradisi pacu itik merupakan salah satu warisan turun-temurun paling otentik yang sangat prospektif untuk diproyeksikan sebagai produk wisata andalan di Kota Payakumbuh.
Melalui panggung SAKU TABA, warga setempat menyajikan beragam eksibisi kesenian tradisional, mulai dari pacu itik, tari-tarian lokal, silek, randai, hadrah, seni bela diri, hingga pertunjukan seni lainnya.
Aktivitas ekonomi juga terlihat hidup dengan keterlibatan aktif para pelaku UMKM, kelompok UPPKA, pengrajin dari sentra bambu, hingga penyedia kuliner khas gulai itik yang diproduksi langsung oleh warga lokal.
“Event ini kami selenggarakan sebagai wadah pelestarian adat dan budaya, sarana menyalurkan bakat masyarakat, sekaligus media promosi bagi sanggar seni, pelaku UMKM, sentra bambu, dan berbagai potensi lokal lainnya,” ujarnya.
Skema pelaksanaan kegiatan ini sengaja diplot menjadi agenda tetap pada hari Minggu pekan terakhir di setiap bulan.
Targetnya, berkala waktu yang konsisten ini dapat mempermudah penyusunan kalender wisata bagi masyarakat maupun pelancong yang singgah di Payakumbuh.
Di samping itu, ruang pergelaran ini diharapkan membuka keran kemitraan strategis dengan pelbagai elemen, termasuk korporasi swasta, institusi perguruan tinggi, serta mitra pembangunan lain demi menyokong akselerasi kawasan wisata budaya.
“Harapan kami Sawah Padang Aua Kuniang dapat berkembang menjadi destinasi wisata baru di Kota Payakumbuh dan kegiatan ini menjadi pemicu lahirnya berbagai kolaborasi untuk kemajuan masyarakat,” katanya.
Apresiasi tinggi turut mengalir dari Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Aua Kuniang, B. Dt. Paduko Marajo.
Ia menilai SAKU TABA sangat efektif memelihara kontinuitas nilai adat sekaligus menjadi sarana efektif dalam mengomunikasikan potensi lokal kepada khalayak.
“Mudah-mudahan kegiatan ini terus berlanjut dan memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat, baik dari sisi pelestarian budaya maupun peningkatan kesejahteraan ekonomi,” katanya. (*)












