Ensiklopedia

Mengulas Sejarah dan Asal Usul Kata Minangkabau Berdasarkan Tambo dan Prasasti

×

Mengulas Sejarah dan Asal Usul Kata Minangkabau Berdasarkan Tambo dan Prasasti

Sebarkan artikel ini
Istano Basa Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar. (Foto: Seruni.co)

SERUNI.CO – Istilah Minangkabau amat melekat dengan masyarakat yang mendiami kawasan Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Identitas etnis ini sangat khas, salah satunya tercermin dari arsitektur Rumah Gadang dengan lengkungan atap yang meruncing menyerupai tanduk.

Di balik keunikan kebudayaan tersebut, asal-usul serta pemaknaan nama Minangkabau menyimpan catatan sejarah dan etnografi yang menarik untuk diulas.

Ditinjau dari pendekatan etimologi, penamaan Minangkabau terbentuk dari gabungan dua kata, yaitu minang dan kabau.

Kata minang diyakini berakar dari artikulasi lokal masyarakat setempat untuk kata manang yang berarti kemenangan, sedangkan kabau bermakna kerbau.

Secara harfiah, istilah Minangkabau mengandung arti “kerbau yang menang”. Pemaknaan ini bersumber langsung dari kisah legendaris yang tertera dalam Tambo adat Minangkabau.

Dalam tradisi lokal, Tambo merupakan karya hikayat yang merekam asal-usul nenek moyang masyarakat Minangkabau hingga terbentuknya tatanan adat serta kebudayaan yang dianut sampai saat ini.

Berdasarkan narasi Tambo, konon pernah terjadi perselisihan antara Kerajaan Pagaruyung dan Kerajaan Majapahit asal Pulau Jawa.

Pasukan Majapahit kala itu berupaya memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke area Pagaruyung.

Guna menghindari pertumpahan darah saat kedua belah pihak siap bertempur, pihak Pagaruyung menawarkan jalur diplomasi yang ditempuh secara bertahap dalam tiga bentuk, yang salah satunya berupa adu kerbau.

Baca Juga  Kisah Sukses H. Yasmar Bangun Gurita Bisnis Budiman Swalayan

Dalam arena adu kerbau tersebut, kubu Majapahit menyertakan ekor kerbau jantan berukuran besar dan kuat.

Sebaliknya, Pagaruyung justru menyertakan seekor anak kerbau. Meski di atas kertas tampak tidak seimbang, anak kerbau tersebut secara mengejutkan mampu menumbangkan kerbau besar milik Majapahit.

Strategi cerdik Pagaruyung menjadi kunci kemenangan tersebut. Pihak Pagaruyung sengaja memilih anak kerbau yang masih dalam masa menyusu dan berada dalam kondisi lapar.

Selain itu, bagian kepala anak kerbau dipasangi tanduk buatan yang terbuat dari besi tajam. Begitu dilepas ke arena, anak kerbau tersebut langsung berlari kencang menerjang kerbau besar karena mengiranya sebagai induk yang hendak menyusui.

Tanduk besi tajam yang terpasang di kepala anak kerbau lantas melukai dan merobek bagian perut kerbau besar milik Majapahit.

Hewan besar itu pun akhirnya roboh dan mati di tempat, sehingga laga adu kerbau dimenangkan secara mutlak oleh Kerajaan Pagaruyung.

Peristiwa manang kabau (kemenangan kerbau) ini kemudian diabadikan menjadi nama kawasan atau Nagari setempat.

Guna mengenang peristiwa bersejarah tersebut, masyarakat Pagaruyung mendirikan sebuah bangunan bertingkat (rangkiang) dengan atap menyerupai bentuk tanduk kerbau.

Berdasarkan catatan sejarah, bangunan itu didirikan di perbatasan tempat bertemunya pasukan Majapahit yang saat itu disambut secara terhormat oleh para wanita cantik dari Pagaruyung.

Baca Juga  Dilema Mahasiswa Perantau, Bertahan Kuliah di UNAND atau UNRI Pascalebaran 2026?

Kendati demikian, pemaknaan minang (menang) dan kabau (kerbau) tidak semata-mata dimaknai sebagai keunggulan fisik dalam pertarungan hewan.

Lebih jauh, filosofi tersebut melambangkan kemenangan esensi kemanusiaan di atas sifat kehewanan, sebagaimana tercermin dalam berbagai idiom lokal yang membandingkan kata Minang dengan kabau.

Keterikatan emosional serta kultural masyarakat Minangkabau dengan hewan kerbau terefleksi jelas dalam berbagai simbol kebudayaan.

Selain arsitektur Rumah Gadang, elemen ini juga ditemukan pada busana adat wanita Minangkabau yang dikenal dengan sebutan baju tanduak kabau.

Meski kisah adu kerbau sangat populer, beberapa literatur sejarah alternatif mencatat bahwa istilah Minangkabau telah eksis jauh sebelum peristiwa perselisihan tersebut terjadi.

Beberapa variasi istilah awal yang tercatat meliputi Minangkabwa, Minangakamwa, Minangatamwan, hingga Phinangkabhu.

Istilah Minangakamwa atau Minangkamba memilki arti Minang (sungai) Kembar, yang merujuk pada keberadaan dua aliran sungai Kampar, yakni Sungai Kampar Kiri dan Sungai Kampar Kanan.

Sementara itu, istilah Minangatamwan yang merujuk pada aliran Sungai Kampar turut termuat dalam Prasasti Kedukan Bukit.

Dalam prasasti tersebut diceritakan bahwa pendiri Kerajaan Sriwijaya, Dapunta Hyang, melakukan migrasi massal yang bermula dari wilayah hulu Sungai Kampar (Minangatamwan) di sekitar kawasan Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. (*)