SERUNI.CO – Sejarah perjuangan kemerdekaan di Sumatera Barat tidak lepas dari sosok pejuang wanita tangguh bernama Siti Manggopoh.
Lahir pada 1 Mei 1880 di Manggopoh, Lubuk Basung, Kabupaten Agam (beberapa catatan menyebutkan 15 Juni 1881), ia dikenal sebagai pahlawan pemberani yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda dalam peristiwa bersejarah yang dikenang sebagai Perang Belasting.
Siti Manggopoh terlahir dari keluarga petani sederhana sebagai anak bungsu sekaligus putri satu-satunya dari pasangan Sutan Tariak dan Mak Kipap.
Karena posisinya di tengah keluarga, kehadirannya disambut hangat oleh orang tua dan saudara-saudaranya.
Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah, Siti menimba ilmu di surau atau masjid.
Di sanalah ia mempelajari adat istiadat Minangkabau serta sering diajak oleh sang kakak ke gelanggang persilatan, yang turut menempa karakter dan kepribadiannya sejak dini.
Pada usia 15 tahun, Siti dinikahkan dengan Rasyid (dikenal juga sebagai Hasik Bagindo Magek). Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Dalima.
Awal Mula Perlawanan terhadap Kebijakan Belasting
Peran krusial Siti Manggopoh dalam sejarah pergerakan dipicu oleh rasa benci yang mendalam terhadap kesewenang-wenangan penjajah terhadap rakyat Minang.
Puncak kemarahannya terjadi pada awal Maret 1908 ketika pemerintah Hindia Belanda menerapkan aturan pajak uang atau Belasting Op De Bedrifsen Ander Inkomsten (pajak atas penghasilan perusahaan atau pendapatan lainnya) sebagai pengganti sistem tanam paksa.
Aturan tersebut menyasar mata pencaharian rakyat hingga harta pusaka komunal. Menurut tatanan adat Minangkabau, tanah dan harta merupakan kepunyaan komunal (kaum) yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga kebijakan pajak tersebut dinilai sangat bertentangan dengan adat setempat serta menyiksa batin masyarakat.
Perlawanan rakyat pertama kali meletus di Kamang (Perang Kamang) sebelum akhirnya menjalar ke berbagai wilayah.
Seperti yang dipaparkan Mulyono Atmosiswartoputra dalam bukunya Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah, penderitaan rakyat akibat pajak yang memberatkan, ditambah penindasan biadab seperti penyiksaan, kerja paksa, hingga pemerkosaan oleh serdadu Belanda, makin menyulut perlawanan Siti Manggopoh.
Bersama para pemuda militan di negerinya, Siti Manggopoh membentuk kelompok perjuangan yang beranggotakan 14 orang.
Anggota badan perjuangan ini meliputi Rasyid, Siti, Majo Ali, St. Marajo Dullah, Tabat, Dukap Marah Sulaiman, Sidi Marah Kalik, Dullah Pakih Sulai, Muhammad, Unik, Tabuh St. Mangkuto, Sain St. Malik, Rahman Sidi Rajo, dan Kana.
Pada suatu malam tanpa penerangan, mereka berkumpul di dalam masjid untuk merumuskan strategi penyerangan.
Musyawarah tersebut melahirkan ikrar dan sumpah siap mati melawan kebatilan penjajah hingga titik darah penghabisan, di mana Siti Manggopoh tampil memimpin pengucapan sumpah tersebut.
Strategi perang pun dimatangkan. Pada Kamis malam, 15 Juni 1908, Siti Manggopoh menjalankan taktik yang sangat cerdik.
Berbekal naluri kewanitaannya, ia mencari informasi mengenai kekuatan musuh tanpa terpengaruh buaian atau rayuan pihak lawan.
Siti bertindak sebagai penyusup utama ke markas pertahanan Belanda, sementara anggota pasukan lainnya bersiaga di semak-semak sekitar lokasi.
Kedatangan Siti ke markas musuh sama sekali tidak memicu kecurigaan serdadu Belanda yang tengah asyik berpesta makanan dan minuman mewah diselingi kehadiran wanita-wanita perayaan.
Begitu berhasil menyelinap ke dalam, Siti segera memadamkan lampu utama dan memberikan aba-aba penyerangan.
Siti Manggopoh dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang serdadu penjaga benteng. Namun, dua serdadu Belanda meloloskan diri dan melapor ke markas di Lubuk Basung.
Pihak Belanda yang kewalahan lantas mendatangkan bantuan tentara dari luar Nagari Manggopoh, yakni dari Bukittinggi dan Padang Pariaman.
Belanda kemudian memporak-porandakan Manggopoh dan gencar melakukan patroli penyisiran di pemukiman warga.

Dilema Naluri Ibu dan Pengasingan
Sebelum penyerbuan digelar, Siti Manggopoh sempat mengalami konflik batin yang luar biasa perang antara naluri keibuan terhadap putrinya yang masih menyusu di satu sisi, dengan panggilan jiwa untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah di sisi lain.
Pada akhirnya, ia memilih untuk mendengarkan panggilan jiwanya demi menghentikan kezaliman.
Usai aksi penyerangan, Siti kembali menjalankan kewajibannya sebagai ibu. Dalam masa pelarian dari kejaran Belanda, ia membawa serta anaknya, Dalima, bersembunyi di dalam hutan selama 17 hari.
Saat akhirnya tertangkap, Siti tetap membawa buah hatinya menjalani masa penahanan, yakni 14 bulan penjara di Lubuk Basung, 16 bulan di Pariaman, dan 12 bulan di Padang.
Siti Manggopoh kemudian dibebaskan-kemungkinan pertimbangan anak yang masih kecil atau faktor lainnya. Sementara itu, suaminya (Bagindo Magek) mendapat hukuman buang/asing ke Manado.
Warisan Sejarah dan Penghormatan
Siti Manggopoh wafat pada 22 Agustus 1965 (beberapa catatan menyebutkan 20 Agustus 1965) pada usia 85 tahun di Gasan Gadang, Batang Gasan, Padang Pariaman.
Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang.
Nama besar dan keteladanannya tetap hidup di tengah masyarakat. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa pahlawan asal Sumatera Barat ini, penulis terkenal Jombang Sentani Khairen (J.S. Khairen) mengabadikan namanya pada sang buah hati, Arunika Manggopoh Ziren.
Anak tersebut merupakan cucu dari wartawan senior sekaligus penulis ternama Minangkabau, Khairul Jasmi.
Siti Manggopoh dikenang sebagai figur pejuang perempuan mandiri yang memberikan kontribusi besar bagi perjuangan bangsa tanpa sedikit pun menanggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. (*)












