Entertainment

Bassist PAS Band Trisno Meninggal Dunia Usai Perawatan Intensif

×

Bassist PAS Band Trisno Meninggal Dunia Usai Perawatan Intensif

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Kabar duka menyelimuti belantika musik Indonesia. Bassist PAS Band, Bambang Sutrisno alias Trisno, menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Hermina Bandung pada Sabtu (1/8/2026) pukul 14.29 WIB di usia 56 tahun, usai mendapatkan penanganan perawatan medis secara intensif.

Sebelum wafat, musisi yang akrab disapa Trisno tersebut sempat dirawat di ruang ICU akibat menderita gagal ginjal serta terdapat sumbatan aliran darah di bagian kepala yang berisiko memicu serangan stroke.

Drummer PAS Band, Sandy, mengungkapkan bahwa rekan satu bandnya itu sejatinya telah memperlihatkan gejala gangguan kesehatan sejak beberapa tahun belakangan, seperti pembengkakan pada kaki hingga penurunan kondisi fisik.

Kendati demikian, Trisno enggan melakukan pemeriksaan kesehatan secara serius.

“Sebenarnya sudah beberapa tahun ini kami melihat ada yang enggak beres sama kesehatan Trisno seperti kaki yang membengkak, agak kurus, tetapi emang Trisno itu rock n roll banget, enggak mau benar-benar periksa ke dokter,” ujar Sandy.

Baca Juga  Banjir Bandang Terjang Perbatasan China-Nepal, Puluhan Tewas dan Ratusan Hilang

Kronologi Perawatan Medis dan Komplikasi Penyakit

Sandy menerangkan, hasil cek medis pada satu bulan sebelumnya mengindikasikan adanya masalah pada organ lever serta kondisi tekanan darah tinggi. Kesehatan Trisno kian menurun drastis hingga ia terpaksa dilarikan ke rumah sakit.

“Baru minggu lalu akhirnya benar-benar kita bawa ke rumah sakit karena sudah lemah di rumah, akhirnya ketahuan terjadi gagal ginjal dan kira-kira fungsinya tinggal 5 persen, dan harus cuci darah,” kata Sandy.

Beban kondisi kesehatan Trisno semakin pelik menyusul ditemukannya penyumbatan darah di area kepala yang memerlukan tindakan operasi demi mencegah bahaya stroke.

Baca Juga  Ibunda Anji Meninggal Dunia, Dimakamkan di Bekasi Sesuai Permintaan

“Yang bikin lebih berat karena ada sumbatan darah di kepala yang bisa ke arah stroke maka dilakukan operasi penghentian sumbatan,” terang Sandy.

Prosedur Cuci Darah dan Duka Dunia Musik

Akibat daya tahan tubuhnya yang kian lemah, akses besuk atau kunjungan menjenguk Trisno sempat diproteksi secara ketat.

Di saat-saat terakhirnya, ia masih harus menjalani prosedur cuci darah secara intensif dengan opsi tindakan transplantasi ginjal.

“Kondisi terakhir masih intens cuci darah sampai ada kemungkinan untuk cangkok ginjal,” ujar Sandy PAS Band.

Berpulangnya Trisno menghadirkan rasa kehilangan mendalam bagi industri musik Indonesia.

Sepanjang hidupnya, sosok Trisno merupakan pilar penting yang mengawal perjalanan PAS Band sejak awal pembentukannya pada tahun 1991. (*)