BeritaHeadline

Karhutla di Kaltim, Balita Samarinda Meninggal, Anak di Balikpapan Terdiagnosis Pneumonia

×

Karhutla di Kaltim, Balita Samarinda Meninggal, Anak di Balikpapan Terdiagnosis Pneumonia

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Kepulan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menerpa wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) kian mengancam keselamatan warga.

Kelompok usia rentan, khususnya anak-anak dan balita, menjadi pihak paling terdampak penurunan kualitas udara ekstrem yang melanda sejumlah daerah.

Di Balikpapan, ancaman kesehatan lingkungan ini dialami oleh seorang balita berumur 18 bulan.

Anak dari Michael (29), warga Balikpapan Utara, terpaksa dilarikan ke rumah sakit usai mengalami gangguan pernapasan hebat pada Kamis (8/10) malam.

Ibu jari pemeriksaan medis di Rumah Sakit Siloam pada Jumat (9/10) mengonfirmasi kondisi memprihatinkan tersebut.

Hasil rontgen memperlihatkan adanya infiltran pada zona atas paru-paru sebelah kiri yang mengarah pada diagnosis pneumonia.

“Malamnya itu sesak napas dan tidurnya pun terganggu, kemudian besok harinya saya bawa berobat dan dianjurkan x-ray. Hasilnya ditemukan infiltrat pada zona atas kiri paru-paru yang didiagnosis pneumonia,” ujarnya.

Faktor Lingkungan Jadi Pemicu Utama

Meskipun sang anak jarang diajak keluar rumah, tim medis mengindikasikan pekatnya kabut asap sebagai salah satu pemicu utama munculnya peradangan paru-paru tersebut.

Kondisi ini diperparah oleh indeks kualitas udara Balikpapan yang tergolong tidak sehat bagi masyarakat.

“Dari situ kita mendapatkan info bahwa penyakit ini dipengaruhi karena adanya asap yang juga semakin tebal. Apalagi sekarang kualitas udara di Balikpapan masuk dalam kategori tidak sehat untuk warganya,” ucapnya.

Michael menceritakan bahwa interaksi luar ruangan anaknya sangat minim sebelum gejala sesak tersebut muncul.

“Sebelum sesak napas itu kita tidak ada melakukan aktivitas keluar rumah, palingan hanya bermain di halaman rumah saja. Tiba-tiba malamnya sudah batuk-batuk dan juga mengalami sesak napas,” lanjutnya.

Baca Juga  Istana Ganti Menkeu Purbaya, Pengamat Kritiki Gaya Komunikasi dan Kebijakan Fiskal

Ia menegaskan tidak ada anggota keluarga lain yang mengidap flu saat kejadian. Meski ia memiliki riwayat asma masa kecil, faktor paparan udara buruk dinilai memegang peranan besar.

“Memang dulu saya waktu kecil ada riwayat asma dan juga kata dokter itu bisa menjadi salah satu aspek turunan ke anak. Tapi tidak serta-merta hanya karena itu, lingkungan menjadi faktor penentu juga katanya,” kata Michael.

Pihak rumah sakit sempat menyarankan penanganan rawat inap. Namun, orang tua korban memutuskan opsi rawat jalan dengan berkoordinasi bersama fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk tindak lanjut darurat.

“Memang sempat diminta untuk rawat inap, tapi kita memilih opsi untuk rawat jalan dulu. Kami diperbolehkan langsung masuk ke IGD dan juga bisa mendapat fasilitas BPJS apabila sesak napas anak saya kambuh kembali,” bebernya.

Perkembangan terkini menunjukkan kondisi fisik balita tersebut telah berangsur pulih. Sebagai langkah pencegahan, pihak keluarga memilih memperketat interaksi sosial serta membatasi tamu dari luar lingkungan keluarga inti.

“Untuk sekarang kita sangat membatasinya bermain ke luar, kita juga membatasi orang-orang dari luar yang berkunjung ke rumah kecuali keluarga inti,” tambahnya.

Melalui unggahan di media sosial, Michael berharap cerita ini menjadi pengingat bagi para orang tua untuk lebih protektif. Ia pun meminta pemerintah mengintensifkan penanganan karhutla.

“Kita pengen sharing di media sosial bahwa memang asap ini ada impact-nya terhadap kesehatan, terutama ke anak kita. Sehingga sebagai orang tua kita perlu lebih aware. Semoga kita bisa beraktivitas di luar dengan nyaman lagi tanpa harus worry terhadap asap dan juga aspek-aspek yang lain,” pungkasnya.

Baca Juga  Kabar Duka, Deswa Finalis Dangdut Academy Musim Pertama Meninggal Dunia

Duka dari Samarinda, Balita Meninggal Dunia Usai Sesak Mendadak

Kondisi tak kalah memprihatinkan terjadi di ibu kota provinsi, Samarinda. Seorang balita berusia satu tahun di kawasan Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (15/10/2026) setelah menderita sesak napas akut.

Korban sempat mendapatkan tindakan darurat di puskesmas setempat pada Rabu (14/10/2026) pagi sebelum dirujuk menuju Rumah Sakit Mulya Medika untuk perawatan intensif.

Namun, nyawa balita tersebut tidak tertolong seiring penurunan kondisi fisik yang begitu cepat.

Sarno, kakek korban, mengungkapkan kepasrahannya atas musibah mendadak yang menimpa sang cucu.

“Sesak napasnya itu mendadak. Waktu mau dibawa, kondisinya sudah seperti itu,” kata Sarno.

Wilayah pemukiman korban memang dilaporkan terkepung asap pekat yang berasal dari berbagai titik kebakaran lahan di area Palaran dan sekitarnya.

“Kebakaran tadi malam juga, asapnya dari Balik Buaya ke sini, dari Betowas ke sini. Memang kadar asapnya tinggi sekali,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketebalan asap membuat perlindungan diri standar seperti masker kurang efektif saat berada di luar ruangan.

“Kadang-kadang saya sendiri kalau kerja pakai masker. Tapi kalau pakai masker, maksudnya, tidak bisa juga,” tuturnya.

Kendati keluarga menduga kuat paparan asap karhutla menjadi pemicu utama timbulnya sesak napas, hingga saat ini belum ada kepastian keterangan medis yang mengonfirmasi penyebab utama meninggalnya balita tersebut secara pasti.

Peristiwa memilukan ini menambah deretan dampak buruk krisis kualitas udara akibat kebakaran lahan yang melanda kawasan Samarinda dan sekitarnya.