SERUNI.CO – Upaya pencarian terhadap Muhammad Ilmi, balita laki-laki berusia dua tahun yang dilaporkan hilang diseret arus sungai di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak, Kabupaten Padang Pariaman, membuahkan hasil.
Tim SAR gabungan menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu (24/12/2026) sekira pukul 09.40 WIB, bertepatan dengan hari ketiga proses pencarian.
Berdasarkan keterangan Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang, Abdul Malik, jasad balita tersebut terdeteksi di lokasi yang tak jauh dari titik awal dugaan tenggelam atau last known position (LKP).
“Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia pada jarak sekitar 200 meter dari LKP. Tim langsung melakukan evakuasi,” ujarnya, Sabtu siang.
Insiden memilukan ini bermula pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu, ibu korban meninggalkan anaknya sebentar di dalam rumah untuk pergi mandi. Namun, setibanya di luar kamar mandi, sang buah hati sudah tidak terlihat di area kediaman.
Ibu korban menuturkan bahwa putranya tersebut memang memiliki kebiasaan bermain di tepi sungai.
Menerima laporan awal, pihak keluarga dibantu masyarakat setempat langsung melakukan penyisiran mandiri di sekitar rumah dan sepanjang alur sungai, namun tidak berhasil menemukan tanda-t keberadaan korban.
Laporan resmi musibah kondisi membahayakan manusia ini diterima Kantor SAR Padang dari anggota BPBD Kabupaten Padang Pariaman, Yogi, pada hari yang sama pukul 21.33 WIB, yang langsung ditindaklanjuti dengan penerjun tim operasi penyelamatan.
Titik musibah berada di kawasan sungai Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak, pada koordinat 0°40’47.04″ LS dan 100°14’54.08″ BT.
Posisi ini berjarak garis lurus sekitar 16 kilometer dari Kantor SAR Padang pada radial 328,90 derajat arah barat laut, atau sejauh 21,3 kilometer lewat jalur darat dengan estimasi waktu tempuh satu jam perjalanan.
Pencarian hari ketiga kembali dibuka pada Sabtu, 24 Oktober 2026, mulai pukul 07.30 WIB. Rescuer membagi kekuatan menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU) di Sektor A.
Unsur SRU 1 bertugas mengarungi dan menyisir aliran sungai sejauh 3 kilometer yang dibatasi titik koordinat A (0°40’44.25″ LS, 100°14’58.92″ BT) dan B (0°41’22.00″ LS, 100°14’16.91″ BT).
Sementara itu, SRU 2 melakukan penyisiran darat seluas 0,55 kilometer persegi pada radius koordinat C, D, E, dan F di lingkungan sekitar lokasi kejadian.
Setelah dua jam menyisir, tepat pukul 09.40 WIB, keberadaan korban berhasil diidentifikasi pada koordinat 0°40’49.0″ LS dan 100°14’47.9″ BT.
Jenazah segera diangkat dari air dan dievakuasi menuju posko pada pukul 10.16 WIB, sebelum diserahkan langsung ke rumah duka.
Selanjutnya, pada pukul 10.35 WIB, seluruh unsur menggelar debriefing. Dengan ditemukannya korban, Kantor SAR Padang secara resmi mengusulkan penutupan operasi dan mengembalikan 75 personel gabungan ke kesatuan masing-masing disertai apresiasi atas kerja keras bersama.
Operasi kemanusiaan ini mengerahkan gabungan personel dari berbagai instansi, meliputi 9 personel Kantor SAR Padang, 1 anggota Koramil Padang Pariaman, 12 personel BPBD Padang Pariaman, 15 personel Polres Padang Pariaman, 3 personel Polsek Lubuk Alung, 10 perangkat Nagari Toboh, serta 25 warga masyarakat setempat.
Sejumlah sarana pendukung juga diterjunkan ke lokasi, mulai dari rescue car double cabin, truk angkut personel, LCR,kendaraan pelayanan, sarana SAR air dan mountaineering, perlengkapan medis, alat komunikasi, hingga drone thermal.
Kendati menghadapi tantangan berupa kondisi air sungai yang keruh di bawah naungan cuaca berawan, seluruh tahapan evakuasi berjalan lancar.












