SERUNI.CO – Catatan kelam sejarah penegakan hukum di tanah air pernah diwarnai oleh peristiwa memilukan saat Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya secara mendadak usai berantas korupsi.
Sosok tersebut adalah Baharuddin Lopa, seorang Jaksa Agung legendaris yang ingatan publik selalu melekat padanya sebagai figur tanpa gentar dalam membongkar gurita perkara korupsi yang menyandera para pengusaha besar hingga barisan pejabat teras negara.
Ketika mengemban amanah baru dari Presiden Abdurrahman Wahid untuk menakhodai Korps Adhyaksa pada Juni 2001, Lopa langsung memikul ekspektasi raksasa dari publik guna mengikis habis praktik lancung korupsi yang telah mengakar kuat sejak masa pemerintahan Orde Baru.
Berdasarkan dokumentasi surat kabar Suara Pembaruan (4 Juli 2001), sejak hari perdana dirinya menduduki kursi kepemimpinan, meja kerjanya dilaporkan langsung disesaki oleh tumpukan berkas penyelidikan skandal korupsi skala besar yang menyeret nama-nama kelas kakap.
Realitas operasional tersebut disadari betul oleh Lopa sebagai sebuah langkah berani yang dipastikan bakal mengganggu kenyamanan serta merusak kepentingan banyak pihak.
“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung,” tulis Lopa seperti yang tertuang dalam bukunya berjudul Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum (2001).
Gugur dalam Tugas yang Singkat di Tanah Suci
Kendati membawa harapan besar, masa pengabdian Lopa sebagai Jaksa Agung berjalan dalam waktu yang sangat singkat.
Pada 2 Juli 2001, Lopa dilaporkan mendadak jatuh sakit sewaktu dirinya tengah menghadiri seremoni serah terima jabatan Duta Besar RI sekaligus melaksanakan ibadah umrah di Arab Saudi.
Ia mengalami gejala mual serta muntah-muntah sebelum akhirnya jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Tepat keesokan harinya, pada 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa dinyatakan meninggal dunia.
Berita wafatnya sang Jaksa Agung secara mendadak sempat memantik mencuatnya beragam teori serta spekulasi di tengah publik.
Walau demikian, keterangan resmi dari tim dokter menegaskan bahwa Lopa mengembuskan napas terakhirnya akibat menderita serangan jantung yang dipicu oleh faktor kelelahan kerja yang ekstrem.
Kepergiannya memicu gelombang duka yang mendalam bagi bangsa, di mana Presiden Abdurrahman Wahid menjadi salah satu tokoh bangsa yang menangis hebat meratapi kepergian sang pendekar hukum.
Rekam Jejak Panjang Melawan Penyelundup dan Koruptor
Karakter berani yang dimiliki Lopa dalam memerangi praktik rasuah sejatinya tidak lahir secara instan saat dirinya menjabat sebagai Jaksa Agung.
Jabatan prestisius tersebut merupakan puncak dari perjalanan karier panjangnya di dunia hukum yang dikenal sangat kaku dan keras terhadap pelaku korupsi maupun mafia penyelundupan.
Roda karier Baharuddin Lopa dimulai sebagai seorang jaksa muda pada tahun 1958 di lingkungan Kejaksaan Negeri Kelas I Makassar.
Sejak masa-masa awal dinasnya tersebut, ia terbukti tidak pernah berkompromi dan tanpa ragu menindak para pelaku kejahatan demi menyelamatkan sirkulasi keuangan negara.
Perjalanan penugasan Lopa selanjutnya diwarnai oleh kebijakan mutasi ke sejumlah daerah. Dari wilayah Sulawesi Selatan, ia sempat dipindahkan tugas menuju Provinsi Aceh.
Merujuk pada pemberitaan harian Kompas (17 April 1983), kebijakan pemindahan tugas ke Serambi Mekah tersebut disinyalir memiliki keterkaitan dengan aksi berani Lopa yang kala itu berupaya melakukan penangkapan terhadap salah seorang kepala kantor wilayah di daerah asalnya.
Namun, isu miring di balik kepindahannya tersebut tidak pernah diambil pusing oleh Lopa. Baginya, prioritas utama adalah terus konsisten menjalankan kewajiban profesi.
Selama kurun waktu kurang lebih 3,5 tahun mengabdi di Tanah Rencong, ia sukses membongkar berbagai kejahatan penyelundupan komoditas kayu dan beras yang ditaksir merugikan kas negara hingga miliaran rupiah.
Bagi seorang Baharuddin Lopa, di mana pun garis takdir menempatkan lokasi tugasnya, misi membela hak-hak rakyat kecil serta menegakkan keadilan hukum wajib dilaksanakan dengan segenap kemampuan yang dimiliki.
Prinsip hidup yang kokoh itulah yang membuatnya maju tanpa pandang bulu berhadapan dengan barisan kriminal, meski dirinya harus akrab dengan berbagai ancaman pembunuhan.
“Bila saya akan bertindak sesuatu, selalu saya berpegang bahwa nasib saya di tangan Tuhan. Yang penting kebenaran harus ditegakkan. Bahwa ada risiko yang mungkin menimpa saya, termasuk pembunuhan, itu sudah saya serahkan kepada Tuhan,” tegas Lopa dalam wawancaranya bersama Kompas, 17 April 1983 silam. (*)










