Ensiklopedia

Hanya 520 Ribu Penduduk, Tanjung Verde Buat Kejutan di Piala Dunia 2026

×

Hanya 520 Ribu Penduduk, Tanjung Verde Buat Kejutan di Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Republik Cabo Verde atau Tanjung Verde. (Foto: Istimewa)

SERUNI.CO – Cetak sejarah baru baru saja tercipta dalam gelaran akbar Piala Dunia 2026. Negara kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika, Tanjung Verde (secara resmi bernama Republik Cabo Verde atau Republik Tanjung Hijau), sukses mengejutkan pencinta sepak bola sejagat.

Secara dramatis, mereka berhasil melenggang ke babak sistem gugur (32 besar) dengan status sebagai runner-up Grup H.

Menariknya, tiket kelolosan ini diraih tanpa mengantongi satu pun kemenangan di fase grup dan saat menghadapi Argentina mantan sang juara Piala Dunia 2022 silam cukup membuat Lionel Messi cukup kewalahan di babak 32 besar.

Langkah ajaib Tanjung Verde ini dipastikan setelah mereka tampil solid dan menahan imbang tiga raksasa sepak bola dari berbagai benua secara beruntun, yaitu Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi.

Dengan mengoleksi tiga poin dari tiga hasil imbang, mereka berhak menemani juara grup ke fase berikutnya.

Cetak Rekor Dunia Baru di Piala Dunia 2026

Pencapaian luar biasa ini tidak hanya membawa sukacita bagi warga negaranya, tetapi juga memecahkan rekor dunia baru.

Baca Juga  Prediksi Skor Portugal vs RD Kongo Piala Dunia 2026

Pada tahun 2026 ini, Tanjung Verde resmi dinobatkan sebagai negara dengan jumlah populasi paling sedikit dalam sejarah yang berhasil lolos ke babak sistem gugur turnamen Piala Dunia.

Dengan jumlah penduduk yang hanya berkisar 520 ribu jiwa, negara ini membuktikan bahwa keterbatasan demografi bukan penghalang untuk bersaing di panggung olahraga tertinggi dunia.

Mengenal Tanjung Verde, “Tanjung Hijau” yang Stabil dan Demokratis

Bagi sebagian penonton layar kaca, nama negara ini mungkin terdengar asing.

Secara geografis, Tanjung Verde adalah negara kepulauan vulkanik yang terletak di Samudra Atlantik Utara, sekitar 570 hingga 650 kilometer di sebelah barat Dakar, Senegal.

Kepulauan yang memiliki luas daratan sekitar 4.033 km ini terbagi menjadi dua bagian pulau besar, yaitu:

  • Kepulauan Barlavento: Santo Antão, São Vicente, Santa Luzia, São Nicolau, Sal, dan Boa Vista.
  • Kepulauan Sotavento: Maio, Santiago (tempat ibu kota Praia berada), Fogo, dan Brava.

Ditemukan pertama kali pada tahun 1456 oleh navigator asal Portugal dan Genova, negara bekas jajahan Portugis ini akhirnya meraih kemerdekaan pada tahun 1975.

Baca Juga  Mengenal Budaya Sistem Matrilineal Suku Minangkabau dan Sejarah Keturunan Garis Ibu

Meskipun berada di kawasan Afrika Barat, Tanjung Verde dikenal luas di dunia internasional sebagai salah satu wilayah yang paling stabil secara politik, memiliki tingkat demokrasi yang tinggi, serta standar ekonomi yang berkembang sangat baik.

Polemik Nama Resmi Antara Tanjung Verde dan Cabo Verde

Nama negara ini juga memiliki sejarah diplomatik yang unik. Pada tahun 2013, pemerintah setempat mengajukan permohonan resmi ke PBB agar nama negara mereka tidak diterjemahkan ke bahasa lain dan wajib menggunakan nama Portugis, Cabo Verde (Republic of Cabo Verde).

Namun, masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai Tanjung Verde (terjemahan dari Cabo Verde yang berarti Tanjung Hijau).

Menariknya, melalui dokumen resmi UNGEGN nomor GEGN.2/2025/122/CRP.122, PBB akhirnya menyetujui penamaan resmi dalam bahasa Indonesia menjadi Republik Tanjung Hijau.

Kendati penduduknya sehari-hari berkomunikasi menggunakan bahasa Kreol Tanjung Verde (Crioulo), bahasa resmi administrasi negara ini tetap bahasa Portugis.

Kini, lewat sepak bola di Piala Dunia 2026, nama “Tanjung Hijau” dipastikan akan semakin melambung dan membekas di hati para pencinta sepak bola dunia. (*)