SERUNI.CO – Panggung olahraga global Piala Dunia 2026 akan menjadi saksi bentrokan dua kiblat sepak bola yang mengusung karakter permainan bertolak belakang.
Partai puncak Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, pada Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB, bakal mempertemukan sang penguasa Eropa, Spanyol, kontra juara bertahan sekaligus jawara Copa America, Argentina.
Bagi Spanyol, laga ini menjadi kesempatan emas untuk merengkuh trofi Piala Dunia kedua sepanjang sejarah setelah pencapaian perdana mereka pada 2010.
Di kubu seberang, Argentina berpeluang mencatatkan tinta emas sebagai tim pertama sejak Brasil pada tahun 1962 yang mampu mempertahankan gelar juara dunia secara berturut-turut.
Rekor Pertahanan Sempurna La Roja
Di sepanjang perhelatan Piala Dunia 2026, Spanyol sukses memperlihatkan keseimbangan permainan yang luar biasa di sektor pertahanan maupun penyerangan.
Skuad besutan Luis de la Fuente tercatat baru kebobolan satu gol di sepanjang turnamen. Satu-satunya gol yang gagal dibendung kiper Unai Simon tersebut terjadi ketika mereka berhadapan dengan Belgia pada fase perempat final.
Di luar momen tersebut, armada Spanyol berhasil menorehkan enam kali clean sheet secara berturut-turut, yang menjadi rekor baru dalam sejarah Piala Dunia kategori putra.
Ketangguhan La Roja kembali terbukti pada babak semifinal saat mereka memulangkan Prancis lewat kemenangan meyakinkan 2-0.
Eksekusi penalti dari Mikel Oyarzabal serta penyelesaian akhir Pedro Porro tidak hanya mengantarkan Spanyol ke partai final, melainkan juga memperpanjang catatan impresif mereka menjadi 37 laga tak terkalahkan di seluruh ajang sejak Maret 2024.
Bahkan, kedisiplinan barisan belakang Spanyol membuat rata-rata angka harapan kebobolan atau expected goals (xG) lawan mereka hanya menyentuh 0,31 per pertandingan sepanjang turnamen.
Kendati Lamine Yamal kerap menyita perhatian lewat aksi individu memukaunya, kekuatan fundamental Spanyol sebenarnya bersumber pada organisasi permainan, kedisiplinan dalam bertahan, serta penguasaan ritme laga.
Ketajaman Lini Depan dan Mentalitas La Albiceleste
Argentina menembus babak final dengan karakteristik yang kontras. Skuad bentukan Lionel Scaloni ini memang tidak memiliki pertahanan sekuat Spanyol, mengingat mereka selalu kebobolan pada fase gugur dan gagal menjaga gawangnya bersih dari gol dalam lima laga terakhir.
Walau demikian, La Albiceleste menjelma sebagai tim paling produktif di turnamen dengan torehan total 19 gol, angka tertinggi dibandingkan kontestan Piala Dunia 2026 lainnya.
Mereka juga punya catatan selalu membobol gawang lawan minimal dua gol di setiap laga. Sosok Lionel Messi tetap memegang peran sentral dalam permainan tim.
Kapten yang kini menginjak usia 39 tahun itu telah mengoleksi delapan gol dan empat assist di sepanjang turnamen, termasuk menyumbang dua assist krusial saat membalikkan kedudukan untuk membungkam Inggris 2-1 di semifinal.
Dalam duel kontra Inggris tersebut, Argentina sempat tertinggal terlebih dahulu sebelum akhirnya bangkit lewat gol dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez pada masa injury time.
Kemampuan keluar dari tekanan psikologis menjadi modal berharga bagi Argentina sepanjang turnamen ini, setelah sebelumnya mereka juga dipaksa melewati babak perpanjangan waktu saat menyingkirkan Tanjung Verde dan Swiss.
Apabila sukses menundukkan Spanyol, Argentina akan mengukir sejarah sebagai negara pertama yang mampu memenangi empat turnamen mayor secara berturut-turut, yakni Copa America 2021, Piala Dunia 2022, Copa America 2024, dan Piala Dunia 2026.
Kondisi Skuad Jelang Laga Puncak
Dari ruang ganti tim, Spanyol diprediksi dapat menurunkan komposisi pemain terbaiknya. Lamine Yamal memang sempat terlihat berlatih dengan perban di kaki kirinya, namun langkah itu hanya bentuk tindakan pencegahan dan penampilannya di final tidak terancam.
Pedro Porro yang sempat didera kelelahan otot pasca-semifinal kontra Prancis juga dipastikan sudah siap tempur.
Luis de la Fuente pun diperkirakan bakal mempertahankan the winning team yang sama seperti laga sebelumnya.
Sementara itu, Argentina juga menghadapi partai final tanpa kendala cedera yang berarti. Cristian Romero dan Leandro Paredes dipastikan sudah bugar sepenuhnya.
Pelatih Lionel Scaloni diprediksi kembali memasang Rodrigo De Paul di pos lini tengah sejak awal laga.
Untuk area bek kanan, Gonzalo Montiel berpeluang tampil menggantikan Nahuel Molina yang bermain kurang memuaskan saat melawan Inggris.
Di barisan depan, Lautaro Martinez selaku pencetak gol kemenangan di semifinal tampaknya akan kembali memulai laga dari bangku cadangan, sementara posisi pendamping Messi dipercayakan kepada Julian Alvarez.
Catatan Pertemuan dan Prediksi Pemenang
Berdasarkan rekor pertemuan, kedua negara mencatatkan hasil seimbang dengan masing-masing mengemas enam kemenangan dalam 14 bentrokan sepanjang sejarah.
Namun, dalam empat laga terakhir yang bergulir di abad ke-21, Spanyol lebih mendominasi lewat tiga kemenangan, termasuk kemenangan besar 6-1 pada laga uji coba tahun 2018.
Kendati demikian, faktor sejarah dinilai tidak akan berpengaruh besar mengingat kedua kesebelasan kini diperkuat oleh generasi baru dan sedang berada di level performa tertinggi.
Menatap laga ini, berbagai analisis data dan pandangan pengamat lebih menjagokan Spanyol untuk keluar sebagai juara.
Superkomputer Opta merilis peluang kemenangan bagi Spanyol berada di angka 59,46 persen, sedangkan kans Argentina untuk mempertahankan trofi juara dunia tahun 2022 berada di angka 40,54 persen.
Tingginya prediksi tersebut selaras dengan penilaian media-media internasional yang memandang Spanyol sebagai tim dengan komposisi paling lengkap sepanjang turnamen, di mana faktor kekuatan pertahanan menjadi pembeda utama yang membuat La Roja lebih diunggulkan.
Salah satu media Seruni.co, memprediksi Spanyol akan memenangi pertandingan dengan skor 2-0.
Penilaian tersebut didasari pada konsistensi performa Spanyol sejak fase grup hingga semifinal, sementara jalur yang harus dilewati Argentina untuk mencapai final dinilai jauh lebih berat. (*)












