SERUNI.CO – Grup musik asal Bandung, for Revenge, resmi meluncurkan karya teranyar mereka yang bertajuk “Museum Duka”.
Proyek musik terbaru ini menghadirkan kolaborasi spesial bersama YB dan Tepe, memadukan identitas serta karakter bermusik dari ketiga musisi tersebut ke dalam satu komposisi yang utuh.
Karya ini telah mengudara di seluruh platform pemutar musik digital sejak 4 September 2026. Sejalan dengan peluncuran lagunya, video musik resmi “Museum Duka” turut dipublikasikan untuk penikmat musik lewat kanal YouTube resmi for Revenge.
Langkah kolaborasi ini berawal dari momen kebersamaan mereka yang kerap berbagi panggung dalam beberapa kesempatan.
Dari panggung tersebut, ide berkembang menjadi proyek serius di mana Boniex dan YB berkolaborasi mengisi lini penulisan lagu, sedangkan Tepe mengisi posisi penabuh drum.
Dalam siaran pers Sony Music yang dilansir Seruni.co pada Jumat, 4 September 2026, tembang ini mengulas dalam tentang fase kehilangan serta cara seseorang mengarsipkan memori atas sosok yang pernah bermakna besar dalam hidupnya.
Lagu ini merepresentasikan sebuah ruang personal tempat di mana riwayat, kenangan, hingga potongan peristiwa yang merujuk pada sosok yang telah berlalu tersimpan rapi.
Pesan dibalik lagu ini tidak cuma sekadar mendorong pendengar untuk menghapus jejak kehilangan, melainkan juga merangkul duka sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Perasaan rindu divisualisasikan sebagai jembatan yang membawa seseorang menengok masa lalu tanpa perlu mengikis jejak memori yang pernah ada.
Keterlibatan YB memberi daya tarik tersendiri pada “Museum Duka”, mengingat proyek ini merupakan kali pertama baginya bernyanyi menggunakan bahasa Indonesia sekaligus pengalaman perdana berkolaborasi dengan sebuah grup band.
Di sisi lain, ketukan drum Tepe memperkaya warna musik dalam perpaduan gaya for Revenge dan YB.
Lirik Lagu “Museum Duka” – for Revenge, YB, Tepe
Di tengah riuh
Di sela gegap gempita yang beradu
dan ingar bingar yang tak lekas meredup
Terulang lagi
kudengar lagi
nama yang kuyakini menunggu
Meski takkan terjawab
Kalimat yang belum lengkap
Ini terlalu cepat
Aku tak pernah siap
Jika tak bisa mati
Tetap duka yang akan kupilih
Jika hidup tersangkal mati
Rumah mana yang harus kutempati lagi?
Katanya waktu kan menyembuhkan
dan tak ada yang sukar di luar batasan
Ini terlalu cepat
Aku takkan pernah siap
Jika tak bisa mati
Tetap duka yang akan kupilih
Jika hidup tersangkal mati
Rumah mana yang harus kutempati?
Jika tak bisa
Mungkin tak bisa
Kan kujalani dengan jiwa yang mati
Bergegas kukembali
Pusara yang kau huni
Jika tak bisa mati
Tetap duka yang akan kupilih
Jika hidup tersangkal mati
Rumah mana yang harus kupilih nanti?












