SERUNI.CO – Sosok Rahmah El Yunusiyyah, ulama perempuan sekaligus pelopor pendidikan Islam modern asal Padang Panjang, Sumatera Barat, kembali diulas secara mendalam melalui buku biografi berkonsep roman historis berjudul Perempuan yang Mendahului Zaman karya sastrawan dan jurnalis senior Khairul Jasmi.
Buku biografi ini menyajikan rekam jejak perjuangan Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) dalam membebaskan kaum perempuan Minangkabau dari keterbelakangan pendidikan pada awal abad ke-20.
Lahir dari pasangan ulama Syekh Muhammad Yunus al-Khalidiyah dan Rafi’ah, wanita yang akrab disapa Etek Amah ini tumbuh di lingkungan intelektual Islam yang kuat.
Berangkat dari kegelisahannya melihat ketimpangan akses ilmu bagi wanita, ia memberanikan diri mendirikan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang pada 1 November 1923 saat masih berusia 23 tahun.
Institusi tersebut mencatatkan sejarah sebagai sekolah Islam khusus perempuan pertama di Indonesia dan dunia Islam.
Keberhasilan metode pendidikan Diniyyah Puteri bahkan menarik perhatian Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Syekh Mahmud Syaltut, saat berkunjung ke Padang Panjang pada 1955.
Kunjungan tersebut menginspirasi Al-Azhar untuk membuka fakultas khusus perempuan (Kulliyah al-Banat), sekaligus menganugerahkan gelar kehormatan Syaikhah kepada Rahmah sebuah rekor langka bagi seorang ulama perempuan asal Nusantara.
Khairul Jasmi mengemas perjalanan hidup sosok penerima gelar Syaikhah ini dengan gaya bahasa naratif khas yang kuat.
Pembaca tidak hanya diajak melintasi linimasa sejarah pergerakan Diniyyah Puteri, tetapi juga menyelami keteguhan tekad serta keberanian politik dan militer Rahmah.
Di masa revolusi kemerdekaan, Rahmah memelopori pengibaran bendera Merah Putih di Padang Panjang, menjadi komandan Lasykar Rakyat, serta menginisiasi pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) barisan perempuan di Sumatera Barat.
Pada era pascakemerdekaan, ia juga dipercaya menyuarakan aspirasi rakyat sebagai anggota DPR-RI mewakili partai Masyumi (1955–1958).
Buku karya Pemimpin Redaksi Harian Singgalang ini menjadi rujukan penting bagi generasi muda, akademisi, dan pemerhati sejarah untuk memahami kontribusi nyata tokoh Minangkabau tersebut terhadap pemikiran Islam modern, emansipasi, dan kesetaraan akses pendidikan gender di Tanah Air.
- Lahir: 26 Oktober 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat.
- Wafat: 26 Februari 1969 di Padang Panjang.
- Peran Utama: Pendiri Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang.
Pelopor Sekolah Perempuan
Pada 1 November 1923, ia mendirikan Madrasah Diniyah Putri sebagai sekolah khusus perempuan pertama di Indonesia yang memadukan ilmu agama, pengetahuan umum, dan keterampilan.
Gelar Kehormatan Syaikhah
Pada tahun 1957, Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, menganugerahinya gelar kehormatan “Syaikhah” karena sistem pendidikan Diniyyah Puteri menginspirasi Al-Azhar dalam mendirikan fakultas khusus perempuan (Kulliyatul Banat).
Pahlawan Nasional
Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional atas jasanya yang besar dalam memajukan pendidikan kaum perempuan dan ikut serta berjuang pada masa kemerdekaan. (*)












