Ensiklopedia

Mengenang Bung Hatta, Menatap Cermin Kejujuran di Tengah Krisis Integritas Bangsa

×

Mengenang Bung Hatta, Menatap Cermin Kejujuran di Tengah Krisis Integritas Bangsa

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta, atau yang akrab disapa Bung Hatta, lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 dan berpulang pada 14 Maret 1980.

Ia bukan sekadar Wakil Presiden Republik Indonesia pertama yang menjabat sejak 1945 hingga pengunduran dirinya pada 1956.

Bung Hatta adalah sosok negarawan utuh, konseptor ulung, ekonom kerakyatan, serta Proklamator Kemerdekaan bersama Soekarno yang memainkan peran sentral dalam memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan mengawal Revolusi Nasional Indonesia.

Bagi sejarah tata negara Indonesia, kepemimpinan Bung Hatta ditandai oleh komitmen mendalam terhadap prinsip-prinsip demokrasi.

Penerbitan Maklumat X pada 3 November 1945 menjadi tonggak penting yang meletakkan dasar sistem multipartai dan pilar demokrasi di Tanah Air.

Sebagai akademisi dan pemikir asal Minangkabau, kepemimpinan beliau hampir tak tertandingi dalam hal kedalaman visi, ketulusan niat, dan karakter kepribadiannya.

Tiga kata yang paling tepat menggambarkan karakter Bung Hatta adalah Jujur, Lugu, dan Bijaksana.

Ia menampilkan integritas tanpa kompromi seorang pemimpin yang sejak dalam pemikiran hingga tindakan menolak keras segala bentuk kecurangan dan praktik koruptif.

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar.
Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman.
Namun tidak jujur, sulit diperbaiki.”

Mohammad Hatta (1902–1980)

Rela Dekat dengan Rakyat di TPU Tanah Kusir

Keteguhan prinsip Bung Hatta tercermin hingga akhir hayatnya. Ia memilih untuk menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Alasan di balik keputusan tersebut sungguh menyentuh sekaligus menohok, ia merasa di TMP Kalibata terdapat pihak-pihak yang dalam pandangannya ‘bersalah’ terhadap bangsa, serta beliau secara eksplisit berpesan ingin dimakamkan di tengah-tengah rakyat biasa.

Baca Juga  Menjaga Pesisir, Memutar Roda Ekonomi, Silvofishery Hadir Sebagai Solusi Berkelanjutan

Hingga kini, peristirahatan terakhirnya di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan, berdiri tanpa kemewahan berlebih sebuah simbol keabadian niat seorang pemimpin yang senantiasa menyatu dengan jelata.

Ironi Paradoks Zaman: Dulu dan Sekarang

Membaca kembali kisah hidup Bung Hatta hari ini sering kali memicu rasa getir. Komparasi antara keteladanan masa lalu dan realitas politik saat ini memperlihatkan jurang moral yang kian melebar:

1. Kejujuran vs Kehilangan Peta Moral

Dulu (Bung Hatta): Menempatkan kejujuran sebagai fondasi mutlak kepemimpinan yang tak bisa ditawar oleh kepintaran formal semata.

Sekarang: Orang jujur sering kali dipinggirkan dan gagasan bernas tak didengar. Publik disuguhi fenomena di mana mantan narapidana menduduki jabatan strategis hingga mantan koruptor melenggang sebagai anggota dewan.

2. Kesederhanaan Ekstrem vs Budaya Flexing

Dulu (Bung Hatta): Menyimpan guntingan iklan sepatu Bally hingga akhir hayatnya tanpa pernah sanggup membelinya karena menjaga kebersihan sumber penghasilannya dan menolak memanfaatkan jabatan.

Sekarang: Sejumlah pejabat dan keluarganya tanpa canggung melakukan pamer kekayaan (flexing) dan menggunakan fasilitas negara demi gaya hidup mewah di tengah kesulitan ekonomi warga.

3. Akuntabilitas Penggunaan Aset Negara

Dulu (Bung Hatta): Membeli dan mengganti tiga lembar kertas dinas dari kantong pribadi saat mengetahui sekretarisnya tidak sengaja menggunakannya untuk keperluan di luar urusan negara.

Sekarang: Penggunaan fasilitas perjalanan dinas yang dibiayai anggaran negara acap kali dibelokkan untuk agenda pribadi, termasuk plesiran hingga merayakan ulang tahun di luar negeri.

Baca Juga  Urang Rumah, Mengapa Istri di Minangkabau Disebut Limpapeh Rumah?

5. Prinsip Etika Jabatan

Dulu (Bung Hatta): Rela mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI pada tahun 1956 demi mempertahankan prinsip dan pandangan politiknya, membuktikan bahwa jabatan bukanlah segalanya.

Sekarang: Beberap oknum pejabat tetap bergeming tanpa rasa bersalah meski telah tertangkap tangan beserta barang bukti uang miliaran rupiah dan puluhan kilogram emas.

6. Haluan Ekonomi Kerakyatan

Dulu (Bung Hatta): Mencetuskan ide Koperasi sebagai pilar ekonomi berorientasi kerakyatan untuk mencapai kesejahteraan bersama dan keadilan sosial.

Sekarang: Wadah koperasi dan institusi ekonomi kerap dieksploitasi untuk kepentingan segelintir elite, menjauh dari esensi kesejahteraan rakyat yang dicita-citakan.

Sebuah Catatan Penutup: Malu pada Cita-Cita Proklamasi

Menatap kembali rekam jejak perjuangan Bung Hatta menyisakan rasa malu yang mendalam bagi generasi penerus.

Cita-cita luhur Proklamasi 1945 yang diperjuangkan dengan pengorbanan harta, pikiran, dan nyawa seakan tercederai oleh maraknya praktik ketidakjujuran dan sikap oportunis para oknum penyelenggara negara.

“Sudahlah Bung… Semakin banyak kami bercerita tentang keagungan etika dan kesederhanaanmu, semakin membuncah rasa malu kami hari ini. Cita-cita luhur kemerdekaan yang dulu engkau rakit dengan keringat dan kejujuran, kini sering dimentahkan begitu saja oleh perilaku tidak jujur. Namun, warisan pemikiranmu akan tetap menjadi obor penerang bagi siapapun yang masih meyakini bahwa integritas adalah harga mati dalam berbangsa,” tulis masyarakat Indonesia pada zaman saat sekarang ini. (*)