Ensiklopedia

Menelusuri Silsilah Syekh Burhanuddin dan Sejarah Masjid Agung Ulakan Padang Pariaman

×

Menelusuri Silsilah Syekh Burhanuddin dan Sejarah Masjid Agung Ulakan Padang Pariaman

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Nama Syekh Burhanuddin Ulakan tak pernah lepas dari sejarah penyebaran agama Islam di Ranah Minangkabau.

Tokoh utama pembawa ajaran Tarekat Syattariyah ini tidak hanya meninggalkan warisan spiritual yang kuat, tetapi juga sebuah pusat peradaban berupa tempat ibadah monumental: Masjid Agung Syekh Burhanuddin yang terletak di Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman.

Hingga saat ini, jejak langkah sang ulama legendaris beserta kompleks tempat ibadah tersebut terus menjadi pusat peziarahan dan simbol kebangkitan keislaman di Sumatera Barat.

Silsilah dan Asal-Usul Syekh Burhanuddin Ulakan

Syekh Burhanuddin lahir pada tahun 1646 M (1066 H) di Pariangan, Padang Panjang. Semasa kecil, beliau memiliki nama panggilan Pono (di beberapa catatan tradisi lokal dinamai Kinun).

Secara silsilah nasab dan kesukuan, Syekh Burhanuddin lahir dari lingkungan keluarga Minangkabau yang taat:

  • Ayah: Pampak Sakti bergelar Karimun Merah (bersuku Koto).

  • Ibu: Cukup Bilang Pandai / Cukiah (bersuku Guci).

Keluarganya kemudian berpindah tempat tinggal menyusuri kawasan perbukitan hingga menetap di kawasan perantauan Sintuk dan Ulakan, Padang Pariaman. Di sinilah Pono kecil tumbuh dan mulai tertarik mendalami ajaran Islam.

Rangkuman Profil dan Silsilah

Kategori Keterangan
Nama Asli / Masa Kecil Pono
Gelar Keagamaan Syekh Burhanuddin Ulakan
Tahun Lahir 1646 M / 1066 H
Garis Ibu (Suku Minang) Guci
Garis Ayah (Suku Minang) Koto
Guru Utama Syekh Abdur Rauf as-Singkili (Aceh)
Aliran / Tarekat Mazhab Syafii & Tarekat Syattariyah
Baca Juga  Pemkab Padang Pariaman Ganti Nama BIM Jadi Bandara Syekh Burhanuddin, Ini Kata Angkasa Pura

Menuntut Ilmu ke Aceh hingga Kembali Membangun Basis Dakwah

Hasrat menuntut ilmu membawa Pono berguru ke berbagai tokoh agama. Perjalanan penting dalam hidupnya terjadi saat ia berangkat ke Kesultanan Aceh untuk berguru kepada ulama ternama Melayu-Nusantara, Syekh Abdur Rauf as-Singkili (Syiah Kuala).

Selama belasan tahun menimba ilmu al-Qur’an, fiqih, dan tasawuf di Aceh, beliau mendapat keazaman untuk menyebarkan ajaran Tarekat Syattariyah.

Oleh sang guru, beliau dianugerahi gelar Syekh Burhanuddin(yang berarti “Bukti/Lentera Agama”).

Sekembalinya ke Ranah Minang sekitar dekade 1670-an, Syekh Burhanuddin menjadikan wilayah Ulakan sebagai pusat gerakan dakwah, pendidikan halaqah, dan penyebaran agama Islam di wilayah pesisir hingga pedalaman Minangkabau.

Sejarah Pembangunan dan Perkembangan Masjid Agung

Untuk menopang kegiatan dakwah dan pengajaran santri, Syekh Burhanuddin memprakarsai pembangunan masjid pertama pada tahun 1670 Masehi.

Masjid Agung Syekh Burhanuddin, Kabupaten Padang Pariaman. (Foto: Seruni.co)
  1. Awal Pembangunan (1670 M): Bangunan pertama didirikan secara sederhana dari kayu dan bahan alam berukuran sekitar 15 × 15 meter. Tempat ini berfungsi ganda sebagai tempat shalat berjamaah sekaligus surau pengajaran ilmu agama.
  2. Pemugaran Abad ke-18: Seiring berkembangnya jumlah pengikut, bangunan masjid mengalami beberapa kali perbaikan dan perluasan.
  3. Pembangunan Kembali Pasca-Bencana: Bangunan masjid yang sempat rusak akibat dampak gempa bumi dibangun kembali secara megah dan dirancang sebagai kawasan pusat ibadah terpadu.
  4. Resmi Diresmikan (Juni 2014): Setelah melalui rangkaian proses rekonstruksi dan penyempurnaan, Masjid Agung Syekh Burhanuddin resmi diresmikan pada bulan Juni 2014.
Baca Juga  5 Suku Paling Sukses dalam Dunia Bisnis Indonesia, Minangkabau Nomor Berapa?

Pusat Wisata Religi yang Tetap Ramai hingga Kini

Sejak diresmikan pada Juni 2014 lalu, keberadaan Masjid Agung Syekh Burhanuddin kian mengukuhkan peran Ulakan sebagai magnet keagamaan di Sumatera Barat.

Terbukti, hingga kini di tahun 2026, kompleks masjid ini masih selalu ramai dikunjungi oleh umat Islam dan para peziarah.

  • Perpaduan Gaya Arsitektur: Memadukan seni bangunan khas Minangkabau dengan atap tumpang bertingkat dan menara bergaya keislaman modern.
  • Fasilitas dan Shelter Tsunami: Selain mampu menampung ribuan jamaah, konstruksi bangunan Masjid Agung ini dirancang khusus untuk menjadi lokasi evakuasi sementara (shelter) masyarakat jika terjadi ancaman bencana tsunami di kawasan pesisir.
  • Tradisi dan Peziarahan: Kawasan ini tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan besar, seperti tradisi Basapa (ziarah bulan Syafar), kajian keislaman, hingga wisata sejarah kebudayaan Islam Minangkabau.

Kombinasi antara sejarah silsilah perjuangan Syekh Burhanuddin dan keberadaan Masjid Agung yang megah ini terus menjadi benteng spiritual sekaligus ikon kebanggaan masyarakat Kabupaten Padang Pariaman. (*)