SERUNI.CO – Tradisi Bakawua Nagari Simanau kembali digelar dengan khidmat di Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok.
Meski harus menempuh perjalanan menantang sejauh 50 kilometer dari Kota Solok dengan kondisi jalan yang berlubang dan tepian jurang, keasrian hutan lindung serta panorama sawah yang membentang luas di Nagari Simanau membayar tuntas segala lelah.
Nagari yang terletak di ceruk alam ini menyimpan warisan budaya unik bernama Alek Lapeh Kawua dan doa tolak bala.
Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun tepat setelah hari raya Idulfitri, menandai dimulainya musim tanam padi bagi masyarakat setempat.
Filosofi Kebersamaan dan Ritual Penyembelihan Kerbau
Ketua Pemuda Nagari Simanau, Yusrial Dhani Putra, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan bentuk permohonan doa agar hasil tani melimpah.
“Alek Lapeh Kawua dan doa tolak bala merupakan tradisi yang dilakukan jelang mulai masa tanam padi. Rutin dilakukan setelah lebaran Idulfitri,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Prosesi dimulai dengan penyembelihan seekor kerbau jantan besar. Dagingnya kemudian dibagikan secara merata kepada seluruh penduduk nagari tanpa memandang status sosial.
Setelah pembagian daging, bagian kepala dan tulang kerbau dibawa ke Batu Gadang, Medan Nan Bapaneh.
Uniknya, di lokasi ini proses memasak dilakukan sepenuhnya oleh para dubalang suku, bukan kaum perempuan.
Sembari hidangan disiapkan, suasana dimeriahkan dengan tari-tarian tradisional dan berbagai perlombaan yang menyatukan masyarakat Simanau dan nagari tetangga dalam silaturahmi yang hangat.
Kehadiran Bersejarah Bupati Solok
Pelaksanaan Tradisi Bakawua Nagari Simanau tahun ini mencatatkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, seorang kepala daerah hadir langsung di tengah masyarakat Simanau dalam acara tersebut.
Bupati Solok, Jon Firman Pandu, disambut meriah dengan Tari Gelombang dan musik tradisional.
Ketua BPN, Candra Riko Putra, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran sang Bupati.
“Beliau merupakan Bupati Solok perdana yang datang langsung ke Nagari Simanau. Ini sebuah anugerah bagi masyarakat yang merindukan kehadiran kepala daerah,” tuturnya.
Dalam sambutannya, Bupati Jon Pandu mengapresiasi kekompakan warga dalam menjaga identitas daerah.
“Semoga dengan tradisi Bakawua ini, kita mohon kepada Allah SWT agar panen padi dan tanaman masyarakat melimpah, tidak berkekurangan, dan dijauhkan dari segala macam bala,” ujar Bupati.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi ini sebagai simbol gotong royong dan pelestarian alam.
Ketua KAN Simanau, Maradi Dt. Rajo Sampono, menceritakan bahwa Tradisi Bakawua Nagari Simanau telah berusia sekitar 200 tahun.
Berdasarkan sejarah lisan “warih nan bajawek”, tradisi ini bermula saat nagari dilanda kelaparan hebat akibat gagal panen selama tujuh musim berturut-turut.
Atas kesepakatan ninik mamak, didatangkanlah orang alim bernama Angku Sibakua dari Sijunjung. Beliau menetapkan dua pantangan utama:
- Dilarang beraktivitas di sawah pada hari Jumat agar masyarakat fokus beribadah.
- Dilarang memanen padi pada hari Minggu.
Sejak kepatuhan terhadap pantangan tersebut, Nagari Simanau kembali makmur. Hingga kini, aturan adat tetap ditegakkan: tidak ada warga yang boleh mengolah sawah sebelum prosesi Bakawua selesai, kecuali hanya untuk menyemai benih.
“Hingga kini, tradisi bakawua tolak bala tetap lestari, mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan niniek mamak zaman dulu. Nilai-nilai tradisi menjadi karakter dan identitas dari masyarakat Nagari Simanau,” pungkas Maradi Dt. Rajo Sampono. (*)












