SERUNI.CO – Luapan air yang menyebabkan banjir di Indonesia sepanjang sejarah banyak menyisakan kesedihan bagi masyarakat salah satunya di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Sementara di pusat pemerintahan Indonesia, di Kali Ciliwung akibat curah hujan yang tinggi kembali memicu genangan air di wilayah DKI Jakarta.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak sembilan Rukun Tetangga (RT) di kawasan Jakarta Timur terendam luapan banjir.
Rincian wilayah terdampak meliputi dua RT di dengan ketinggian air berkisar 120 cm hingga 150 cm.
Selain itu, di Kecamatan Kramat Jati, turut terendam dengan kedalaman 100 cm hingga 130 cm.
Berdasarkan keterangan masyarakat kepada awak media, terdapat 100 rumah yang terdampak banjir, meski dilaporkan tidak ada warga yang mengungsi.
Walaupun pemerintah sedang menjalankan program normalisasi Kali Ciliwung, manfaat dari program tersebut dirasakan belum sampai ke warga hingga saat ini.
Mengenal Bencana Banjir dan Penyebabnya
Banjir menjadi salah satu bencana alam yang kerap melanda pelbagai daerah di Indonesia. Munculnya bencana ini dipicu oleh beragam faktor, mulai dari tingginya intensitas curah hujan, rendahnya elevasi permukaan tanah, hingga aliran sungai yang tersumbat oleh tumpukan sampah.
Masalah ini sudah berlangsung sejak lama dan terus membayangi masyarakat setiap tahunnya, serta menimbulkan kerugian materiil hingga korban jiwa.
5 Kejadian Banjir Terbesar di Indonesia
Berikut adalah deretan peristiwa banjir besar yang tercatat pernah menerjang pelbagai wilayah di Indonesia:
1. Banjir Palembayan, Kabupaten Agam (2025): Musibah banjir bandang melanda Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Kamis, 27 November 2025.
Bencana ini merusak rumah warga di Salareh Aia akibat hantaman batu dan kayu besar. Hingga 2 Desember 2025, tercatat 115 orang meninggal dunia, 76 orang hilang dalam pencarian, serta 1.511 orang terpaksa mengungsi.
2. Banjir Bohorok (2003): Terjadi pada Minggu, 2 November 2003, di kawasan ekowisata Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Meluapnya Sungai Bohorok yang dipicu degradasi hulu akibat penebangan liar menewaskan 157 orang (termasuk 6 turis asing) dan menyebabkan 82 orang hilang.
Saat kejadian, sebagian warga sempat mengaitkan bencana ini dengan penyelewengan fungsi kawasan wisata.
3. Banjir Jakarta (2007): Dimulai pada malam 1 Februari 2007 akibat hujan lebat berkepanjangan dan sistem drainase yang buruk.
Luapan dari 13 sungai merendam hampir 60% wilayah DKI Jakarta dengan kedalaman hingga 5 meter.
Bencana ini menelan 80 korban jiwa dalam 10 hari, memaksa 320.000 warga mengungsi hingga 7 Februari 2007, serta menimbulkan kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Rp4,3 triliun.
4. Banjir Wasior, Papua Barat (2010): Banjir bandang menerjang Wasior, Teluk Wondama, pada 4 Oktober 2010 akibat hujan sejak 2 Oktober dan kerusakan hutan yang memicu meluapnya Sungai Batang Salai di Pegunungan Wondiwoy.
Bencana ini merusak lapangan udara, rumah sakit, jembatan, rumah warga, dan beberapa gereja, serta memutuskan jaringan listrik dan komunikasi.
Sebanyak 158 orang dilaporkan meninggal dunia dan 145 orang hilang.
5. Banjir Tangse, Aceh (2011): Menerjang kawasan Tangse, Pidie, pada 10 Maret 2011 akibat hujan selama empat hari yang diperparah pembalakan liar di Hutan Tangse.
Banjir bandang yang membawa kayu log besar ini menghancurkan jembatan antardesa, mengakibatkan 24 orang meninggal dunia, serta merusak 102 rumah warga. (*)












