Berita

Hutama Karya Paparkan Empat Riset Inovatif di NUS Singapura

×

Hutama Karya Paparkan Empat Riset Inovatif di NUS Singapura

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Prestasi gemilang di kancah internasional berhasil diukir oleh PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) dalam pengembangan inovasi dan pengetahuan berbasis praktik lapangan.

BUMN konstruksi ini sukses meloloskan sekaligus memaparkan empat karya ilmiah dalam konferensi gabungan bergengsi, yaitu International Symposium on Automation and Robotics in Construction (ISARC) dan 34th Annual Conference of the International Group for Lean Construction (IGLC).

Pertemuan ilmiah internasional tersebut berlangsung di National University of Singapore (NUS) sejak Selasa (23/6).

Keempat makalah ilmiah besutan Hutama Karya tersebut berhasil melewati tahapan seleksi ketat di antara ratusan karya tulis lain dari berbagai penjuru dunia.

Capaian ini menjadi pengakuan global bahwa implementasi rekayasa, manajemen risiko, digital construction, serta metode Lean Construction yang diaplikasikan oleh Hutama Karya memiliki nilai pembelajaran yang relevan untuk dibagikan pada forum konstruksi tingkat dunia.

Forum gabungan ISARC-IGLC 2026 ini menjadi momentum krusial karena mengintegrasikan dua pilar besar transformasi industri modern, yakni bidang otomatisasi dan robotika konstruksi melalui ISARC, serta metode Lean Construction lewat IGLC.

Mengusung tema besar “Constructing the Future: Sustainable, Smart and Lean,” konferensi ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan para akademisi, peneliti, praktisi, hingga pelaku industri konstruksi dari skala global.

Solusi Lapangan untuk Tantangan Ekstrem

Melalui mimbar internasional ini, Hutama Karya membagikan visi mengenai proyeksi masa depan dunia konstruksi yang lebih cerdas, kolaboratif, efisien, dan ramah lingkungan.

Seluruh riset yang dipaparkan lahir langsung dari penanganan persoalan konkret di area kerja, yang meliputi mitigasi risiko proyek, kelancaran logistik, penguatan rantai pasok material, hingga implementasi budaya rapi 5S berbasis teknologi BIM.

Hal ini membuktikan bahwa kerumitan medan, keterbatasan ruang kerja, tantangan geografis, dan urgensi pengambilan keputusan cepat dapat menjadi stimulasi lahirnya sebuah inovasi.

Salah satu penelitian utama yang dipaparkan mengambil studi kasus pada proyek strategis Flyover Sitinjau Lauik di Sumatera Barat.

Koridor vital Padang-Solok ini dikenal memiliki tingkat kerumitan tinggi karena topografi ekstrem, tanjakan terjal, tikungan tajam, serta kerawanan kecelakaan yang tinggi.

Baca Juga  Satpol PP Padang Amankan 18 Remaja dalam Operasi Cipta Kondisi Dini Hari

Riset tersebut mengomparasikan metode penanganan risiko konvensional dengan pendekatan Lean Construction.

Berbagai variabel hambatan dianalisis secara mendalam, mulai dari pengurusan perizinan di kawasan hutan lindung, ketidakpastian struktur tanah, ketersediaan material utama, risiko cuaca ekstrem, hingga hambatan aksesibilitas kerja.

Hasil kajian menunjukkan bahwa adopsi Lean Construction mampu meningkatkan kesiapan proyek secara signifikan melalui perencanaan yang lebih matang, pemetaan kendala sejak dini, serta penyamaan persepsi seluruh pemangku kepentingan sebelum fase krusial dimulai.

Pada proyek dengan kompleksitas tinggi, pengelolaan risiko dituntut lebih kolaboratif, proaktif, dan berbasis alur kerja, sehingga metode ini efektif memperkuat kualitas perencanaan di tengah ketidakpastian lapangan.

Visualisasi Budaya 5S Berbasis BIM

Riset lain yang turut menyita perhatian peserta forum adalah integrasi budaya kerja 5S (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) menggunakan bantuan Building Information Modeling (BIM) di proyek Gedung BRI Ragunan.

Studi ini mendemonstrasikan cara mentransformasikan prinsip 5S dari sekadar regulasi tertulis menjadi tindakan harian yang mudah dipahami pekerja.

Melalui permodelan BIM, penempatan material, area penyangga (staging area), serta zonasi limbah dan material daur ulang dapat direncanakan secara presisi.

Cetak biru digital tersebut kemudian diimplementasikan secara fisik di lapangan melalui denah cetak, pelabelan zona, serta papan informasi visual.

Metode visual ini mempermudah para pekerja memahami instruksi tata letak pengosongan, pengambilan material, serta pemilahan limbah.

Dampak positifnya terlihat nyata di lapangan, mulai dari terpangkasnya waktu pencarian material, pengurangan jarak perpindahan barang, minimalisasi kesalahan peletakan material, hingga peningkatan efektivitas identifikasi material layak guna.

Kajian ini membuktikan peran BIM tidak hanya terbatas pada instrumen perancangan arsitektur, melainkan sebagai bahasa visual penjembatan rencana digital dengan budaya kerja harian.

Optimalisasi Logistik dan Rantai Pasok

Selain kedua studi di atas, Hutama Karya memaparkan kajian logistik yang menguji efektivitas algoritma machine learning seperti CatBoost, LightGBM, dan XGBoost untuk memprediksi performa logistik serta optimalisasi alokasi sumber daya.

Baca Juga  Viral Juru Parkir Cekcok dengan Pengendara Mobil di Kota Bukittinggi

Pendekatan berbasis data ini menjadi krusial dalam menjaga ritme kerja konstruksi skala besar yang memiliki dinamika kebutuhan material tinggi di banyak titik.

Sementara riset keempat berfokus pada evaluasi performa rantai pasok proyek infrastruktur menggunakan kerangka kerja SCOR 14.

Melalui metode terstruktur ini, perusahaan memiliki standar kuat dalam mengevaluasi alur pengadaan, distribusi, koordinasi dengan pihak pemasok, serta jaminan kesiapan material proyek.

Keempat karya ilmiah ini merupakan buah sinergi lintas unit di Hutama Karya, yang melibatkan kontributor dari Divisi Infrastruktur, Divisi Engineering Research Technology Information (ERTI), Divisi Gedung, tim proyek, hingga Corporate Secretary.

Hal ini mengonfirmasi bahwa iklim riset dan inovasi di tubuh perusahaan tumbuh dari kerja kolektif antar-fungsi.

Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menegaskan bahwa partisipasi global ini merupakan wujud nyata komitmen korporasi dalam mendokumentasikan pengalaman empiris di lapangan menjadi khazanah ilmu pengetahuan yang bernilai.

“Bagi Hutama Karya, setiap proyek adalah ruang belajar. Tantangan di lapangan kami lihat bukan hanya sebagai persoalan yang harus diselesaikan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan untuk meningkatkan cara kerja perusahaan. Melalui forum internasional ini, kami ingin menunjukkan bahwa praktik konstruksi Indonesia memiliki pengalaman, inovasi, dan pembelajaran yang relevan untuk dibagikan di tingkat global,” jelas Hamdani.

Hamdani menambahkan bahwa keikutsertaan dalam ISARC–IGLC 2026 juga dimanfaatkan sebagai peluang berharga untuk menyerap perkembangan sains terbaru mengenai Lean Construction, konstruksi digital, kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, serta robotika konstruksi.

Menurutnya, transformasi industri bukan sekadar perihal adopsi teknologi, melainkan tentang perubahan pola pikir, sistem perencanaan, dan integrasi metode kerja.

Segenap wawasan baru dari forum ini diharapkan mampu memperkuat inovasi internal, memacu kinerja proyek, serta menyokong agenda pembangunan infrastruktur nasional yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. (*)