SERUNI.CO – Langkah visioner di luar kebiasaan bisnis kuliner baru saja ditunjukkan oleh salah satu merek pencuci mulut lokal.
Untuk kali pertama dalam sejarah industri dessert di Indonesia, Butter Baby secara resmi memperkenalkan film animasi pendek orisinal yang diberi judul The Story of Butterlandia.
Agenda ini bukan sekadar momentum peluncuran produk biasa, melainkan momentum pembukaan resmi sebuah ekosistem semesta (universe) kreatif yang merangkum asal-usul karakter, misi, dan dunia fiksi yang selama ini hanya tersampaikan lewat petunjuk kecil pada setiap kemasan produk mereka.
Melalui tayangan film animasi pendek ini, penonton diajak menyelami dunia bernama Butterlandia.
Tempat tersebut merupakan planet asal dari karakter Butter Baby yang menjadi fondasi cerita, karakter, serta narasi misi yang dibangun di balik merek ini.
Film animasi ini mengisahkan bahwa di balik karakter lucu yang telah dikenal luas oleh publik, terdapat sebuah semesta yang terus tumbuh dan sebuah petualangan yang baru saja dimulai.
Narasi ini mengungkap misi krusial yang mendasari seluruh universe Butter Baby: sebuah perjalanan mendesak demi mengumpulkan 500 triliun ton mentega (butter) untuk menyelamatkan Butterlandia, planet asal mereka yang perlahan-lahan mulai sekarat.
Dua pendiri (Founders) dari Butter Baby, Nick Burch dan Henry Burch, memaparkan latar belakang emosional yang mendasari pembentukan IP (Intellectual Property) global ini dari sudut pandang mereka.
“Butter Baby berawal dari ide sederhana: bagaimana menciptakan sesuatu yang bisa membuat orang merasa terhubung. Kami sudah mengenal dan mencintai Indonesia selama lebih dari 12 tahun, dari Sumba, hingga akhirnya menetap dan bekerja di Jakarta selama lebih dari empat tahun. Kami memilih Indonesia bukan karena kesempatan, tapi karena kami percaya ini adalah tempat terbaik untuk membangun sesuatu yang tahan lama. Dari sana, kami mulai membangun karakter, cerita, dan dunia yang perlahan berkembang menjadi Butterlandia. Bukan cerita yang kami ciptakan dari luar; ini lahir dari sini, dari kota ini, bersama komunitas yang telah tumbuh bersama kami sejak hari pertama. Film animasi ini adalah cara kami mengatakan: inilah fondasinya. Inilah dari mana semuanya dimulai,” ujar Nick Burch dan Henry Burch.
Sejak kemunculan perdananya di Jakarta, jenama Butter Baby terus bertransformasi menjadi sebuah Global IP yang kokoh dengan bertumpu pada kekuatan teknik bercerita (storytelling), penyajian pengalaman, serta keterikatan komunitas.
CEO Butter Baby, Shane Lewis, menambahkan bahwa ekspansi bisnis ini berakar kuat pada ikatan emosional yang terjalin antara karakter fiksi tersebut dengan para penikmatnya.
“Produk mungkin menjadi titik masuk pertama bagi banyak orang untuk mengenal Butter Baby tetapi yang membuat mereka bertahan bukan hanya kualitas dan cita rasanya, melainkan dunia dan cerita di baliknya. Saya telah memasak di seluruh dunia dan Indonesia selama lebih dari 20 tahun, dari AMAN Group hingga NIHI Sumba, dan saya tahu satu hal: tidak ada tempat di dunia yang memiliki kekayaan rasa dan budaya seperti Indonesia. Brand ini bukan hanya tentang karakter; dan Butter Baby memang tidak pernah hanya tentang karakter, atau tentang produk kami. Ini tentang semesta yang sedang kami bangun untuk membawa cerita, semangat, dan kekayaan rasa Indonesia ke seluruh dunia. Ini menandai momen di mana kami mulai membawa misi kami keluar dan Bangkok adalah langkah pertama,” jelas Shane.
Bagi manajemen, eksistensi Butterlandia difungsikan sebagai jembatan emosional yang menghubungkan brand dengan basis komunitasnya secara mendalam.
Head of Marketing & Business Development Butter Baby, Karen Tjahja, menegaskan aspek keterlibatan talenta lokal di balik layar produksi ini.
“Kami membangun Butter Baby untuk komunitas yang ingin menjadi bagian dari sesuatu yang nyata, bukan sekadar membeli produk, tapi ikut dalam perjalanan yang terus berkembang. Yang membuat Butter Baby berbeda adalah ia tumbuh bersama kita. Setiap pengalaman baru yang ia jalani di Bumi, emosi yang ia rasakan, momen yang ia alami, dunia yang ia temukan untuk pertama kalinya, membentuk siapa dia. Seperti kita. Butter Baby adalah cermin yang sempurna bagi pengalaman manusia: belajar menavigasi dunia yang asing, mencari tempat di mana ia merasa diterima. Dan cermin itu diciptakan oleh talenta Indonesia, 99% tim kami adalah orang Indonesia, dari kreator, desainer, hingga operasional. Dari sini, kami tidak berhenti. Ini baru permulaan,” kata Karen Tjahja.
Pesan filosofis mengenai kehangatan tersebut juga dituangkan secara detail ke dalam setiap menu yang disajikan.
Corporate Executive Chef Butter Baby, Chef Dedy Sutan, menggarisbawahi pentingnya rasa yang familier dalam setiap kreasi kulinernya.
“Setiap dessert di Butter Baby selalu dimulai dengan satu pertanyaan: seperti apa rasanya makanan yang benar-benar hebat? Bukan hanya secara teknis, tetapi makanan yang membuat kita merasakan sesuatu. Yang mengingatkan kita pada rumah. Yang menghadirkan rasa nyaman. Butter Baby mungkin sedang jauh dari rumahnya, dan melalui setiap dessert yang kami ciptakan bersama, kami selalu berusaha menghadirkan perasaan itu: hangat, nyaman, dan membuat kita merasa baik-baik saja. Dan menurut saya, itulah juga yang Indonesia bawa ke dunia melalui Butter Baby. Bukan sekadar rasa, tapi rasa yang membuat orang merasa diterima,” tutur Chef Dedy.
Sebagai bagian dari proyeksi masa depan brand, Butter Baby secara resmi membuka gerai kelimanya pada Jumat, 19 Juni 2026. Toko terbaru ini berlokasi di Area Keberangkatan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK).
Namun, agenda ekspansi ini diposisikan lebih dari sekadar pembukaan titik penjualan baru, melainkan sebuah simbol penegasan identitas merek.
Sebuah instalasi seni berupa patung landmark raksasa setinggi delapan meter didirikan megah di salah satu gerbang penerbangan tersibuk di Asia Tenggara tersebut.
Keputusan menempatkan patung ikonik ini di Area Keberangkatan memiliki makna filosofis tersendiri bagi Butter Baby.
Kehadirannya di sana bukan mengisyaratkan bahwa karakter ini akan pergi meninggalkan Indonesia, melainkan menjadi simbol penghormatan bahwa identitas Indonesia akan selalu dibawa dalam setiap langkah ekspansi global mereka di panggung dunia.
Bagi jenama ini, momen peresmian pada 19 Juni 2026 merupakan simbol keberangkatan resmi menuju fase semesta baru yang lebih luas. (*)












