Berita

Tim Peneliti ITS Ciptakan Benwit, Bensin Ramah Lingkungan Berbasis Sawit

×

Tim Peneliti ITS Ciptakan Benwit, Bensin Ramah Lingkungan Berbasis Sawit

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Sektor energi alternatif kembali mendapat angin segar dari dunia akademisi.

Tim peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses mengembangkan bensin nabati atau biogasoline yang memanfaatkan kelapa sawit sebagai bahan baku utamanya.

Produk inovasi yang diberi nama Benwit (Bensin Sawit) ini muncul sebagai kandidat solusi untuk menekan angka ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

Berdasarkan informasi dari laman Instagram @pandemictalks (8/4/2026), proyek ini dipimpin oleh Hosta Ardhyananta, peneliti dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS.

Hosta menjelaskan bahwa Benwit dihasilkan melalui konversi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi bahan bakar dengan karakteristik yang serupa dengan bensin konvensional.

Dalam proses produksinya, efisiensi yang dicapai tergolong cukup tinggi.

  • Rasio Bahan Baku: 10 kg sawit menghasilkan kurang lebih 5 liter bensin.

  • Tingkat Konversi: Berkisar antara 50–55 persen.

  • Minim Limbah: Sisa hasil produksi dapat dimanfaatkan kembali, misalnya sebagai bahan bakar kebutuhan lain.

Keunggulan dan Dampak Terhadap Konsumsi BBM Nasional

Salah satu nilai jual utama dari Benwit adalah potensi penghematan konsumsi BBM nasional.

Baca Juga  Kebakaran di Koto Gadang Agam, Armada Damkar Gagal Tiba Akibat Kehabisan BBM

Saat ini, metode yang digunakan adalah blending, yaitu mencampur 10 persen Benwit dengan 90 persen bensin konvensional.

Campuran ini diklaim dapat langsung digunakan pada kendaraan tanpa memerlukan modifikasi mesin sama sekali.

“Penghematan 10 persen saja sudah sangat besar dampaknya,” ujar Hosta.

Jika diimplementasikan secara masif, inovasi ini diprediksi mampu menekan konsumsi energi fosil secara signifikan dan memperkuat kemandirian energi nasional.

Secara teknis, tim ITS menerapkan metode catalytic cracking, sebuah teknik untuk memecah molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil dengan bantuan katalis.

Pengembangan terbaru menggunakan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO).

Teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menurunkan suhu operasional saat produksi.

Produk akhir dari proses ini didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), yang merupakan komponen utama bensin komersial.

Selain itu, Benwit memiliki keunggulan berupa jejak karbon yang lebih rendah, sehingga lebih ramah terhadap lingkungan.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menegaskan bahwa inovasi ini merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan krisis energi global.

Mengingat cadangan CPO Indonesia yang melimpah, pemanfaatan sawit menjadi peluang besar bagi kedaulatan energi.

Baca Juga  Diserang Pakai Botol Kaca, Dua Personel Satpol PP Padang Luka saat Razia Minol

Pihak ITS berencana melakukan koordinasi dengan pemerintah agar Benwit dapat diuji coba dalam skala nasional.

Keberhasilan implementasi ini diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor BBM, tetapi juga mendorong transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan.

Inovasi ini memicu diskusi hangat di media sosial. Banyak netizen memberikan apresiasi positif terhadap karya anak bangsa ini.

“Kalau benar bisa hemat 10 persen, ini luar biasa sih. Indonesia memang harus mandiri energi,” tulis salah satu netizen. “Anak ITS keren! Semoga bisa diproduksi massal dan nggak cuma wacana,” timpal netizen lainnya.

Meski demikian, sikap kritis juga muncul terkait kesiapan industri dan dampak lingkungan dari ekspansi lahan sawit.

“Masalahnya bukan cuma teknologi, tapi distribusi dan kesiapan industri. Jangan sampai berhenti di riset saja,” tulis sebuah akun. “Bagus, tapi tetap harus perhatikan dampak ekspansi sawit ke hutan,” tambah netizen lainnya.

Harapan besar publik kini tertuju pada kematangan implementasi agar inovasi ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi bangsa. (*)