Opini

17 Tahun Gempa 30 September 2009, Sumatera Barat Jangan Sampai Lupa

×

17 Tahun Gempa 30 September 2009, Sumatera Barat Jangan Sampai Lupa

Sebarkan artikel ini

Catatan: Redaksi Seruni.co

ADA tanggal yang selesai ketika kalender berganti. Ada pula tanggal yang tidak pernah benar-benar selesai meski waktu telah berjalan bertahun-tahun, 30 September 2009 adalah salah satunya.

Hari ini, Rabu, 30 September 2026, tepat 17 tahun sejak gempa berkekuatan 7,6 magnitudo mengguncang lepas pantai Sumatera Barat sekitar pukul 17.00 WIB.

Tujuh belas tahun adalah waktu yang panjang, anak-anak yang ketika itu masih balita kini telah tumbuh menjadi orang dewasa. Mereka yang saat gempa terjadi masih berada di bangku sekolah kini mungkin telah bekerja, berkeluarga, bahkan memiliki anak.

Namun, pertanyaannya kemudian adalah: Apakah waktu yang panjang juga berarti luka dan ingatan telah selesai?

Saya kira tidak.

Data Satkorlak PB yang dilansir dari Wikipedia mencatat 1.117 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut.

Sebanyak 1.214 orang mengalami luka berat, 1.688 orang luka ringan dan satu orang dilaporkan hilang.

Kerusakan rumah juga tidak sedikit. Sebanyak 135.448 rumah rusak berat, 65.380 rusak sedang dan 78.604 rusak ringan.

Angka-angka itu sering kita baca sebagai statistik. Tetapi sesungguhnya, angka tersebut adalah kumpulan manusia dan cerita.

Di balik angka 1.117 korban meninggal, ada keluarga yang kehilangan orang tua, anak, saudara atau pasangan. Di balik ratusan ribu rumah yang rusak, ada keluarga yang kehilangan tempat untuk pulang.

Karena itu, memperingati gempa 30 September seharusnya tidak berhenti pada seremoni mengenang korban.

Lebih dari itu, kita perlu bertanya apakah masyarakat Sumatera Barat benar-benar semakin siap menghadapi bencana.

Ingatan Seorang Anak yang Tidak Pernah Memilih Menjadi Penyintas

Hazla mungkin tidak memiliki ingatan lengkap mengenai gempa tersebut. Saat bencana terjadi, usianya baru tiga tahun.

Tetapi ketakutan orang tua dan keluarganya tetap menjadi bagian dari memori yang tumbuh bersamanya.

Kini Hazla berusia 20 tahun. Ia tidak terlalu ingin membuka kembali seluruh kejadian yang pernah tersimpan dalam kepalanya ketika masih balita.

Menurut saya, hal tersebut justru menunjukkan bahwa bencana tidak selalu meninggalkan luka dalam bentuk yang terlihat.

  • Ada luka yang tidak membutuhkan perban.
  • Ada trauma yang tidak terlihat dalam foto.
  • Ada ketakutan yang tidak selalu mampu diceritakan.

Kita sering mengatakan bahwa Sumatera Barat sudah pulih. Bangunan telah berdiri. Infrastruktur telah diperbaiki. Perekonomian kembali berjalan.

Baca Juga  Menelisik Ulang Larangan Nikah Sepersukuan, Antara Tradisi, Generika dan Keadilan Sikap

Benar! Tetapi manusia bukan bangunan.

Rumah dapat dibangun kembali dalam hitungan waktu. Jalan dapat diperbaiki. Gedung dapat direnovasi. Ingatlah ingatan manusia jauh lebih rumit.

Riko dan Satu Pikiran yang Hanya Tertuju pada Keluarga

Cerita Riko juga memperlihatkan sisi lain dari gempa tersebut.

Ketika gempa terjadi, Riko masih berusia 18 tahun dan sedang menjalani masa sebagai mahasiswa baru di Universitas Bung Hatta yang berada tepat bersebelahan bibir Pantai Padang.

Dalam situasi ketika orang-orang berlarian dan jeritan terdengar di berbagai tempat, pikirannya justru tertuju kepada keluarga.

Terutama adiknya yang masih berusia tiga tahun.

Ayahnya ketika itu berada di luar kota karena pekerjaan. Kondisi yang sulit dipahami membuat sang ayah berusaha pulang dari Kabupaten Pesisir Selatan.

Bagi saya, kisah semacam ini menunjukkan bahwa dalam situasi bencana, yang pertama kali dicari manusia bukanlah harta.

Kita mencari orang-orang yang kita cintai.

Gempa dapat meruntuhkan dinding rumah dalam hitungan detik. Tetapi pada saat yang sama, ia juga memperlihatkan betapa kuatnya ikatan keluarga.

Jangan Mengira Bencana Berakhir Ketika Gempa Berhenti

Satu hal yang menurut saya penting untuk terus diingat adalah bahwa bencana tidak berakhir ketika tanah berhenti berguncang.

Setelah gempa, masyarakat masih harus menghadapi malam-malam tanpa listrik. Selama hampir sebulan, suasana malam di sejumlah wilayah masih diliputi kegelapan.

Bantuan datang. Masyarakat berusaha memenuhi kebutuhan masing-masing.

Dalam kondisi darurat, orang-orang bergerak dengan naluri untuk bertahan hidup.

Semua itu merupakan bagian dari sejarah yang tidak boleh dipisahkan ketika kita berbicara tentang 30 September 2009.

Sebab bencana bukan hanya tentang saat bumi bergerak.

Bencana juga tentang apa yang terjadi setelahnya.

  • Tentang bagaimana masyarakat bertahan.
  • Tentang bagaimana pemerintah merespons.
  • Tentang bagaimana bantuan didistribusikan.

Dan yang tidak kalah penting, tentang bagaimana kita belajar untuk menghadapi kemungkinan yang sama di masa depan.

Baca Juga  Meratapi Semen Padang FC, Merayakan Anak-Anak Minang di Panggung Nasional

30 September Bukan Sekadar Peringatan

Tujuh belas tahun setelah gempa, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang peringatan 30 September.

Jangan sampai setiap tahun kita hanya mengulang angka korban, memasang foto lama, kemudian kembali melupakan semuanya setelah tanggal berganti.

Peringatan seharusnya menjadi ruang untuk menguji kembali kesiapsiagaan.

  1. Apakah masyarakat tahu harus berbuat apa ketika gempa besar kembali terjadi?
  2. Apakah keluarga memiliki rencana evakuasi?
  3. Apakah sekolah dan kampus rutin melakukan simulasi?
  4. Apakah jalur evakuasi benar-benar diketahui masyarakat?
  5. Apakah bangunan publik cukup siap menghadapi ancaman gempa?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak sedramatis cerita tentang gempa. Tetapi justru pertanyaan tersebut jauh lebih penting. Sebab kita tidak dapat memastikan kapan gempa besar akan datang.

Yang dapat kita lakukan adalah memastikan bahwa ketika bencana terjadi, kita tidak menghadapinya dengan kepanikan yang sama seperti 30 September 2009.

Jangan Wariskan Trauma, Wariskan Kesiapsiagaan

Bagi generasi yang mengalami gempa 2009, kenangan itu adalah bagian dari perjalanan hidup.

Bagi generasi yang lahir setelahnya, peristiwa tersebut hanyalah cerita.

Di sinilah tanggung jawab generasi hari ini. Kita tidak harus mewariskan ketakutan kepada anak-anak kita. Tetapi kita wajib mewariskan pengetahuan.

Mereka perlu tahu bahwa Sumatera Barat berada di wilayah yang memiliki ancaman gempa. Mereka perlu tahu bagaimana menyelamatkan diri. Mereka perlu tahu ke mana harus pergi ketika keadaan darurat.

Sebab mengenang korban bukan hanya dengan mengucapkan nama mereka.

Salah satu bentuk penghormatan terbaik adalah memastikan pengalaman pahit yang pernah mereka alami tidak menjadi sia-sia.

Tujuh belas tahun telah berlalu. Sumatera Barat sudah bangkit dari reruntuhan 30 September 2009.

Namun, jangan sampai kebangkitan fisik membuat kita kehilangan ingatan.

Karena ketika sebuah masyarakat mulai lupa terhadap bencananya, yang hilang bukan hanya sejarah. Yang hilang adalah pelajaran.

Dan 30 September 2009 seharusnya tidak hanya dikenang sebagai hari ketika bumi mengguncang Sumatera Barat.

Ia harus dikenang sebagai hari ketika kita belajar bahwa kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan kebutuhan.