SERUNI.CO – Wilayah pesisir Indonesia sering kali dihadapkan pada dilema antara ekploitasi ekonomi dan pemeliharaan lingkungan.
Pengalihan fungsi hutan mangrove menjadi tambak perikanan secara masif terbukti merusak benteng alami dari abrasi pantai serta mengancam keanekaragaman hayati.
Menjawab tantangan tersebut, konsep silvofishery hadir sebagai jawaban atas integrasi kegiatan perikanan dan kelestarian ekosistem.
Silvofishery atau wanamina merupakan sistem budidaya perikanan tradisional yang menggabungkan usaha perikanan (seperti udang, bandeng, dan kepiting) dengan penanaman serta pemeliharaan hutan mangrove.
Konsep ini memanfaatkan fungsi ekologis mangrove sebagai penyaring air alami, penyedia pakan alami, dan tempat pemijahan biota laut tanpa harus membabat habis kawasan hutan.
Dampak Positif Ekologi dan Ekonomi
Penerapan silvofishery memberikan gambaran nyata bahwa keberlanjutan lingkungan tidak harus mengorbankan kesejahteraan masyarakat pesisir.
-
Perlindungan Lingkungan: Akar mangrove berfungsi menahan laju abrasi pantai, menyerap emisi karbon, serta menjaga kualitas air tambak dari racun atau polutan luar.
-
Efisiensi Biaya: Kehadiran ekosistem mangrove yang sehat menyediakan pakan alami berupa dedaunan dan organisme kecil, sehingga mengurangi ketergantungan petambak pada pakan buatan (pellet).
-
Diversifikasi Pendapatan: Selain hasil panen ikan atau udang, masyarakat dapat mengembangkan potensi lain seperti ekowisata pesisir dan pengolahan produk turunan mangrove (seperti sirup atau kerajinan).
Penerapan di Lapangan
Dalam praktiknya, terdapat beberapa pola silvofishery yang umum diterapkan, seperti model Empang Parit di mana saluran tambak mengelilingi kawasan mangrove, serta model Kompresi yang memisahkan area tambak dan hutan secara proporsional.
Kesuksesan model ini sangat bergantung pada keberlanjutan pemeliharaan vegetasi mangrove agar fungsi ekologisnya tetap berjalan optimal.
Dukungan dari pemerintah, akademisi, dan partisipasi aktif masyarakat lokal menjadi kunci utama agar sistem silvofishery dapat terus diperluas di berbagai daerah pesisir Indonesia.
Dengan pengelolaan yang tepat, silvofishery terbukti menjadi jembatan ideal antara pemulihan lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.






