Berita

Permintaan Tiket Lemah, Piala Dunia 2026 Terancam Sepi Penonton

×

Permintaan Tiket Lemah, Piala Dunia 2026 Terancam Sepi Penonton

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 kini dibayangi ancaman sepi penonton. Pihak panitia penyelenggara dilaporkan tengah berjuang keras menghadapi lemahnya permintaan tiket, yang memicu munculnya deretan kursi kosong serta kondisi stadion yang jauh dari kapasitas penuh.

Berdasarkan hasil survei, mahalnya biaya disinyalir menjadi alasan utama yang membuat sebagian penggemar sepak bola tampaknya enggan melirik kompetisi akbar ini.

Selain itu, para pemilik hotel di berbagai kota yang menjadi tuan rumah Piala Dunia turut mengungkapkan bahwa tingkat pemesanan kamar saat ini cenderung berada di bawah target perkiraan.

Sebagaimana dimuat laman AS Newsweek pada Jumat (12/6/2026), data dari Ticket Data memperlihatkan sekitar 25.000 kursi terpantau masih tersedia di platform utama penjualan tiket FIFA.

Sejauh ini, tiket dilaporkan sangat laku hanya pada pertandingan-pertandingan yang melibatkan tim tuan rumah saja.

Di samping faktor biaya, format kompetisi yang baru turut menjadi persoalan tersendiri. Piala Dunia edisi kali ini tercatat menjadi turnamen dengan jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah, yakni melibatkan 48 tim nasional dengan total mencapai 104 pertandingan.

Fenomena Stadion Sepi Bukan Hal Baru

Kondisi sepinya penonton di dalam stadion sebenarnya bukan sebuah fenomena baru dalam sejarah Piala Dunia. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi pada edisi Piala Dunia 2010 dan Piala Dunia 2014.

Apabila melihat data secara keseluruhan, akumulasi jumlah penonton pada tahun 2010 sebenarnya terhitung cukup tinggi.

ESPN mengalkulasi bahwa hampir 3,2 juta penonton hadir secara langsung saat Piala Dunia 2010 diselenggarakan di Afrika Selatan (Afsel).

Kendati demikian, sejumlah laga di babak penyisihan grup justru menampilkan deretan kursi yang melompong di dalam arena.

Contoh nyatanya terlihat pada pertandingan yang mempertemukan Yunani kontra Korea Selatan (Korsel).

“Sangat menyedihkan bahwa ada banyak kursi kosong di dalam Stadion Free State untuk pertandingan terakhir tuan rumah,” tulis jurnalis olahraga Mark Ogden melalui cuitannya saat pertandingan Afrika Selatan melawan Prancis pada 22 Juni kala itu.

Baca Juga  Balita 4 Tahun Hilang di Ketaping, Diduga Hanyut di Sungai

Berdasarkan pernyataan yang dikutip dari Reuters Africa pada masa itu, FIFA melemparkan kesalahan masalah tersebut kepada para pemegang tiket korporasi serta pihak pemerintah.

Selain itu, ketidakhadiran penggemar luar negeri di stadion, meskipun mereka telah membeli atau menerima tiket, juga dituding sebagai penyebab.

Pemandangan serupa terulang kembali pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Turnamen tersebut juga diterpa laporan mengenai area tribun yang kurang terisi penuh.

Sejumlah pihak mengaitkan masalah ini dengan ketidakmampuan fans lokal untuk membeli tiket akibat harganya yang terlampau tinggi, serta kegagalan pihak FIFA dalam mengalihkan tiket yang dikembalikan oleh pihak sponsor maupun kelompok lainnya.

Namun, sama seperti kasus di Afrika Selatan, FIFA kembali berdalih bahwa masalah ini bersumber dari ketidakhadiran penonton itu sendiri.

Juru bicara FIFA pada waktu itu menyatakan bahwa “sebagian besar adalah tiket yang tidak diambil karena orang-orang yang tidak datang ke pertandingan belum menjualnya kembali”.

Memasuki tahun 2018, persoalan bangku kosong ini mencapai puncaknya, setidaknya terlihat jelas saat pertandingan antara Uruguay melawan Mesir dilangsungkan.

“Seluruh blok tribun Ekaterinburg Arena terlihat kosong dalam siaran televisi, dan FIFA mengkonfirmasi bahwa sekitar 5.000 kursi tidak terisi,” muat Newsweek.

Pihak FIFA sendiri mengklaim bahwa jumlah penonton yang hadir sebenarnya mencapai 27.015 orang. Padahal, kapasitas resmi dari stadion Piala Dunia FIFA tersebut adalah sebesar 33.061 kursi.

“Fakta bahwa jumlah penonton sebenarnya lebih lower dari jumlah yang dialokasikan,” tambah laman berita tersebut.

Dampak Kebijakan Trump Terhadap Hunian Hotel dan Kunjungan Turis

Di sisi lain, kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dinilai turut memberikan pengaruh signifikan.

Baca Juga  Cindy Monica: RUU PPRT Adalah Upaya Memanusiakan Pekerja Rumah Tangga

Sejumlah analis menyebutkan hal ini memicu keengganan turis internasional untuk berkunjung ke AS, yang bertindak sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Meksiko dan Kanada.

“Isu geopolitik yang tentu saja membuat orang lebih waspada untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS,” kata Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University, Mike Edwards, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Kebijakan imigrasi yang diterapkan Trump diakui ikut mengikis minat kunjungan pelancong. Pada April lalu, sejumlah organisasi termasuk American Civil Liberties Union (ACLU) bahkan sempat mengeluarkan peringatan resmi bagi warga negara asing yang berencana bepergian ke AS untuk menyaksikan Piala Dunia 2026.

Kondisi tersebut diperparah oleh kebingungan terkait regulasi visa serta laporan mengenai keterlambatan proses penerbitan visa, yang akhirnya menimbulkan ketidakpastian bagi para penggemar sepak bola dari luar negeri.

Situasi ini berdampak pada berkurangnya angka wisatawan internasional, yang biasanya menjadi penyumbang perputaran uang terbesar sepanjang ajang olahraga global ini.

Sementara dari sektor domestik, masyarakat AS sendiri tengah menghadapi tekanan ekonomi yang cukup berat.

Dampak dari lesunya permintaan ini pun mulai memukul sektor industri perhotelan. Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh American Hotel and Lodging Association, sekitar 80% hotel melaporkan tingkat keterisian kamar mereka masih berada di bawah ekspektasi, padahal turnamen tinggal menghitung hari.

Sebanyak 70% responden survei menunjuk kendala pengurusan visa serta gejolak situasi geopolitik sebagai akar penyebab utama melemahnya permintaan pasar.

Di New York City, yang dijadwalkan menjadi lokasi pertandingan final, pemesanan hotel dilaporkan baru menyentuh angka sekitar 65% dari target yang diharapkan.

Sementara di Seattle, tingkat pemesanan di sekitar 80% hotel tercatat masih tertinggal jika dibandingkan dengan musim panas dalam kondisi normal. (*)