Ensiklopedia

Makna Ikhtiar dalam Islam, Memilih Jalan Baik Bukan Asal Usaha

×

Makna Ikhtiar dalam Islam, Memilih Jalan Baik Bukan Asal Usaha

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi orang yang tengah berjuang di depan layar komputer sembari berdoa. (Foto: Seruni.co/AI)

SERUNI.CO – Ketika kita melihat seseorang sedang didera kesulitan ekonomi, saran yang paling spontan keluar dari lisan kita biasanya adalah “Teruslah berikhtiar.”

Kalimat serupa juga kerap dilesatkan kepada para pencari kerja yang tak kunjung lolos seleksi, para lajang yang belum bertemu jodoh, hingga mereka yang tengah berjuang melawan penyakit yang mengancam jiwa.

Ust. M. Alimin Mukhtar memberi saran untuk “berikhtiar” seolah menjadi muara dan solusi universal bagi segala bentuk problematika hidup, mulai dari urusan sesuap nasi hingga urusan keturunan.

Namun, sebuah pertanyaan mendasar muncul, apakah kita sudah benar-benar memahami apa itu ikhtiar?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan ikhtiar sebagai alat atau syarat untuk mencapai maksud daya upaya pilihan (pertimbangan, kehendak, pendapat, dan sebagainya).

Dalam benak masyarakat umum, ikhtiar kemudian disederhanakan menjadi sebuah usaha atau aktivitas nyata yang diharapkan mampu menjadi jalan keluar atas persoalan yang tengah membelit.

Pengertian umum tersebut memang tidak sepenuhnya keliru. Kendati demikian, ada masalah serius jika kita berhenti pada definisi itu saja.

Mengapa? Karena pada hakikatnya, ikhtiar adalah istilah keagamaan yang baku dalam Islam. Ia memiliki batasan, prinsip, dan klasifikasi tersendiri yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan sekadar “berusaha bebas.”

Sebab Ikhtiar Bukan Menghalalkan Segala Cara

Jika ikhtiar hanya diartikan sebagai “daya upaya” tanpa batas, maka kita akan terjebak pada pembenaran perilaku keliru yang marak terjadi di masyarakat.

Sebagai ilustrasi, seorang wanita tuna susila di kompleks lokalisasi bisa saja berdalih bahwa ia menjual diri sebagai bentuk “ikhtiar” untuk menyambung hidup dan membiayai sekolah anaknya.

Seorang pencuri berargumen mengambil harta orang lain sebagai ikhtiar lepas dari kemiskinan. Seorang lajang menganggap pacaran berasyik-masyuk sebagai ikhtiar menjemput jodoh.

Baca Juga  Arti Nama Seruni dan Filosofi Mendalam Bunga Chrysanthemum

Bahkan, membeli kupon judi togel dianggap sebagai ikhtiar mengatasi impitan ekonomi, dan uang suap (sogokan) dinilai sah sebagai ikhtiar melicinkan kursi dalam seleksi pegawai atau siswa baru.

Pertanyaannya: Apakah tindakan menghalalkan segala cara tersebut dapat diterima sebagai bagian dari ikhtiar? Jawabannya jelas: Tidak.

Secara etimologi dalam bahasa Arab, kata ikhtiar berakar dari kata khair yang berarti baik. Berdasarkan akar kata ini, sebuah tindakan baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar apabila di dalamnya mengandung unsur kebaikan.

Tentu saja, ukuran kebaikan di sini wajib bersandar pada syariat Islam, bukan semata-mata berdasarkan logika akal manusia, adat kebiasaan, ataupun opini publik.

Dengan demikian, makna ikhtiar yang sesungguhnya adalah “memilih yang baik-baik”, yaitu segala bentuk upaya yang selaras dengan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ikhtiar bukanlah aksi bebas yang ditentukan sendiri oleh syahwat manusia, melainkan sebuah kesadaran religius untuk memperoleh kepastian spiritual dalam setiap pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan.

Ikhtiar adalah Nilai Ibadah

Membentengi prinsip ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kita dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang shahih:

“Tidaklah seseorang itu mencuri, pada saat mencuri itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu berzina, pada saat berzina itu ia dapat disebut mukmin. Tidaklah seseorang itu minum khamr, pada saat minum khamr itu ia dapat disebut mukmin…”

Hadits ini menegaskan bahwa ketika seseorang melakukan kemaksiatan-baik itu mencuri, berzina, berjudi, menyuap, maupun menenggak miras-maka pada saat itu ia sedang menanggalkan keimanannya.

Baca Juga  Mengenal Jurusan Kehutanan Beserta Peluang Kerja di Masa Depan

Walaupun alasan di balik perbuatan maksiat tersebut sekilas mengundang simpati (seperti demi menyambung hidup), tindakan itu mutlak bukan bagian dari ikhtiar.

Sebab, ikhtiar adalah bagian dari ibadah, dan setiap ibadah pasti mendatangkan pahala dari Allah SWT. Sungguh tidak logis jika kemaksiatan yang dilarang keras oleh Allah dianggap sebagai jalan keluar yang diridai dan diberi pahala.

Menuntaskan Masalah dengan Jalan Takwa

Walhasil, ikhtiar bukan sekadar taktik bertahan hidup atau sekadar jalan keluar dari belitan masalah. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan bertindak.

Di dalam ikhtiar, terkandung esensi takwa yang kuat. Artinya, ketika dihadapkan pada suatu masalah, hal pertama yang kita pertimbangkan adalah “Apa pilihan yang baik dan halal menurut Islam?” Setelah menemukannya, kita menjadikannya sebagai pilihan tindakan, apa pun konsekuensinya, meskipun terasa berat atau tidak populer di mata manusia.

  • Mencari nafkah dan pekerjaan memang sulit, tetapi menyuap bukan pilihan yang baik.
  • Meredakan stres akibat tekanan hidup adalah hal manusiawi, tetapi menenggak miras atau narkoba bukan pilihan yang baik.
  • Jodoh tidak datang dengan sendirinya, tetapi mencarinya lewat jalan pacaran adalah kemaksiatan yang dibenci Allah.
  • Terjerat kemiskinan atau penyakit menahun sangatlah berat, tetapi mendatangi dukun demi jampi-jampi adalah jalan setan.

Uang tidak jatuh dari langit dan kesembuhan butuh dijemput, namun menempuh jalan yang haram hanya akan menumpuk murka-Nya.

Oleh karena itu, mari kita hadapi dan selesaikan setiap jengkal persoalan hidup kita dengan ikhtiar yang sebenar-benarnya: yaitu dengan konsisten memilih jalan keluar yang baik-baik saja. Wallahu a’lam. (*)