SERUNI.CO – Gelombang protes melanda internal Semen Padang FC setelah kelompok suporter The Kmers secara resmi menyatakan sikap untuk memboikot pertandingan tim berjuluk Kabau Sirah tersebut.
Pernyataan tegas ini disampaikan melalui unggahan di media sosial yang kini tengah menjadi sorotan publik.
Aksi boikot ini dipicu oleh keprihatinan suporter terhadap kondisi tim saat ini serta sikap manajemen yang dinilai tertutup terhadap masukan dari berbagai pihak.
“Melihat kondisi yang terjadi pada tim Semen Padang FC, serta sikap manajemen yang cenderung anti kritik, kami sangat menyayangkan hal tersebut. Sikap yang ditunjukkan justru terkesan mencari kambing hitam tanpa menghadirkan solusi nyata untuk perbaikan tim,” tulis pernyataan resmi The Kmers.
Kekecewaan Terhadap Komunikasi Manajemen The Kmers menilai peran suporter selama ini kurang dihargai oleh pengelola klub.
Mereka menyebut pendekatan yang dilakukan manajemen cenderung arogan dan jauh dari prinsip profesionalisme, sehingga melukai hati elemen pendukung setia.
“Suporter yang selama ini setia mendukung justru dianggap tidak berguna, dengan pendekatan yang arogan dan tidak mencerminkan sikap profesional. Hal ini tentu melukai hati kami sebagai bagian dari elemen penting dalam perjalanan klub,” tambah mereka.
Sebagai langkah konkret dari bentuk protes tersebut, The Kmers memastikan tidak akan hadir di stadion pada laga melawan Persijap maupun pertandingan-pertandingan selanjutnya hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Tuntutan Perubahan dan Keterbukaan Kelompok suporter ini mendesak adanya perubahan fundamental dalam cara manajemen berkomunikasi.
Mereka menekankan bahwa eksistensi sebuah klub sepak bola tidak lepas dari peran suporter dan masyarakat luas.
“Kami menuntut adanya perubahan sikap dan keterbukaan dari manajemen. Sepak bola bukan hanya milik pengelola, tetapi juga milik suporter dan masyarakat,” tegas mereka.
Selain menuntut transparansi, The Kmers juga menyarankan agar manajemen memberikan ruang kepada pihak yang lebih kompeten jika merasa tidak mampu menjalankan amanah dengan baik.
Langkah ini dianggap perlu guna menghilangkan budaya anti-demokrasi demi masa depan klub.
Hingga saat ini, pihak manajemen Semen Padang FC belum memberikan pernyataan resmi terkait aksi boikot yang dilakukan oleh salah satu basis pendukung terbesarnya tersebut.
Dinamika ini menjadi tantangan berat bagi klub yang tengah berjuang memperbaiki performa di kompetisi liga. (*)












