Ekonomi

Rupiah Berisiko Melemah ke Rp17.100 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik

×

Rupiah Berisiko Melemah ke Rp17.100 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Nilai tukar rupiah diprediksi masih menghadapi risiko pelemahan pada perdagangan Selasa (31/3/2026).

Mata uang Garuda bahkan berpotensi menyentuh level Rp17.100 per dolar AS setelah ditutup terdepresiasi pada Senin (30/3/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sebelumnya melemah 0,13% atau turun 22 poin ke posisi Rp17.002 per dolar AS.

Di saat yang sama, indeks dolar AS terpantau menguat 0,10% ke level 100,24.

Kondisi pasar keuangan saat ini sangat dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Laporan Trading Economics menyoroti sikap hati-hati pasar menjelang rilis data inflasi Maret 2026 dan data perdagangan Februari 2026 pada pekan depan.

Selain faktor eksternal, kondisi fiskal dalam negeri turut menjadi perhatian lembaga pemeringkat global seperti Moody’s dan Fitch.

Baca Juga  Harta Empat Pejabat Dilantik Prabowo Tembus Rp2,14 Miliar hingga Rp7,17 Miliar

“Pemerintah menegaskan kembali bahwa tidak berniat melanggar batas defisit anggaran 3%, meskipun harga minyak yang terus tinggi dapat menguji sikap ini dan mendorong penyesuaian kebijakan,” tulis laporan tersebut.

Indonesia sebagai importir bersih minyak dan gas juga dinilai rentan terhadap lonjakan biaya energi global.

Laporan tersebut menambahkan bahwa stabilitas rupiah akan sulit dijaga apabila harga energi terus melambung tinggi.

Trading Economics memperkirakan rupiah akan berada di level Rp16.975 pada akhir kuartal I/2026.

Untuk jangka panjang, mata uang domestik diproyeksikan menguat ke posisi Rp16.615,80 dalam 12 bulan ke depan.

Analisis Pengamat: Sentimen Timur Tengah dan The Fed

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan terus melemah pekan ini dengan rentang pergerakan di angka Rp16.880-Rp17.100 per dolar AS.

Baca Juga  Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter

Sementara itu, indeks dolar diprediksi bergerak di rentang 99.300 hingga 101.600.

Ibrahim menjelaskan bahwa tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya pembatasan transportasi di Selat Hormuz dan serangan terhadap basis-basis AS di Irak, Uni Emirat Arab, serta Arab Saudi, menjadi sentimen utama.

“Perang pun juga masih terus terjadi dan wilayah-wilayah basis Amerika yang ada di Timur Tengah, yaitu di Irak, di Uni Emirat Arab, di Arab Saudi, itu pun juga dibombardir,” tutur Ibrahim.

Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim memperkirakan Kevin Warsh akan menjabat sebagai Ketua The Fed pada April ini.

Kebijakan baru kemungkinan besar diumumkan pada Mei, di mana The Fed di bawah kepemimpinan Warsh diprediksi akan mengikuti langkah Trump untuk menurunkan suku bunga. (*)