SERUNI.CO – Masa depan Rafael Leao sebagai pilar utama dalam susunan pemain AC Milan kini berada di ujung tanduk.
Menjelang laga krusial menghadapi Atalanta, penyerang sayap asal Portugal tersebut dilaporkan berisiko kehilangan posisinya sebagai starter akibat performa yang dinilai fluktuatif sepanjang musim ini.
Manajemen dan staf pelatih Rossoneri mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaksabaran.
Meski berstatus sebagai pemain dengan gaji tertinggi di San Siro, hal tersebut tidak lagi menjadi jaminan bagi Leao untuk tampil sejak menit awal.
Krisis Gol dan Kegagalan Adaptasi Taktik
Berdasarkan laporan dari La Gazzetta dello Sport, Leao tercatat sudah melewati 64 hari tanpa mencetak gol di kompetisi resmi.
Gol terakhir yang ia sarangkan terjadi pada 1 Maret lalu saat AC Milan menang 2-0 atas Cremonese.
Pelatih sejatinya telah berupaya melakukan penyesuaian taktik dengan menempatkan Leao sebagai penyerang tengah dalam skema 3-5-2.
Perubahan ini diharapkan mampu mendekatkan sang pemain ke gawang lawan, namun realitanya ia baru mengoleksi 9 gol di Serie A musim ini.
Dengan sisa tiga pertandingan lagi, tim pelatih dikabarkan siap mengambil langkah tegas demi menjaga momentum tim.
Faktor Internal: Masalah Sikap dan Kontribusi Defensif
Selain tumpul di lini depan, beberapa faktor internal turut memperkeruh situasi Leao di Milanello:
-
Minim Kontribusi Bertahan: Leao dinilai kurang membantu pertahanan saat tim kehilangan penguasaan bola.
-
Reaksi Negatif: Sang pemain kerap menunjukkan gestur tidak puas saat ditarik keluar di tengah pertandingan.
-
Persaingan Ketat: Posisi Leao kini berada di belakang Christian Pulisic dan Santiago Gimenez dalam hierarki penyerang, karena keduanya dinilai lebih stabil dan memiliki etos kerja yang lebih baik.
Sinyal Tegas untuk Stabilitas Tim
Leao kini hanya memiliki waktu singkat di sesi latihan terakhir untuk meyakinkan pelatih agar tetap mempercayainya di laga akhir pekan nanti.
Langkah mencadangkan pemain bintang dipandang perlu untuk menegakkan standar performa di klub.
Keputusan ini menjadi sinyal kuat bahwa kepentingan kolektif klub jauh lebih besar daripada individu pemain, terutama saat AC Milan tengah berjuang mengamankan tiket kompetisi Eropa untuk musim depan di klasemen akhir Serie A. (*)












