SERUNI.CO – Musisi Enau berkolaborasi dengan Ari Lesmana merilis karya terbaru bertajuk “Sesi Potret”.
Lagu ini menjadi sorotan karena kedalaman liriknya yang mengangkat tema kehilangan, kerinduan, dan penyesalan mendalam terhadap seseorang yang telah berpulang ke peristirahatan terakhir.
Makna Lagu
Lagu “Sesi Potret” merupakan sebuah narasi emosional tentang seseorang yang harus menghadapi kenyataan pahit saat kembali ke kampung halaman.
Melalui lirik yang jujur dan puitis, karya ini menggambarkan transisi dari rasa optimis menjadi kesedihan yang sunyi.
Tokoh utama diceritakan berhasil sukses secara ekonomi, namun kesuksesan tersebut terasa hambar karena sosok yang dicintai telah meninggal dunia.
Tokoh dan Pengisi Suara
Karya ini dibawakan oleh Enau bersama vokalis Fourtwnty, Ari Lesmana.
Dalam liriknya, tokoh utama adalah seorang perantau yang sebelumnya terhalang pulang karena kendala biaya, sementara subjek yang dirindukan adalah sosok yang setia menunggu namun akhirnya pergi selamanya.
Latar Belakang Penyesalan
Penyesalan menjadi inti emosional dalam lagu ini. Tokoh utama merasa bersalah karena tidak hadir di saat-saat terakhir.
Penyesalan tersebut tertuang dalam lirik: “Sesal hatiku tak sempat temani kamu”dan “Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu.”
Ada pesan mendalam mengenai betapa manusia seringkali baru menyadari arti penting seseorang setelah kehilangan mereka.
Latar Waktu dan Tempat
Cerita bermula saat tokoh utama mampu pulang setelah “berjuta alasan” di tahun sebelumnya karena penghasilan yang pas-pasan.
Setibanya di kampung halaman, ia tidak disambut oleh sosok yang dinanti, melainkan harus berkunjung ke sebuah “rumah baru”.
Penggunaan Simbol dan Metafora
Enau dan Ari Lesmana menggunakan metafora yang kuat untuk menggambarkan kematian.
Istilah “Rumah Baru” dalam lirik “Ku bertamu ke rumah barumu, tak ada kamu, hanya papan dan namamu” merujuk pada makam atau tempat peristirahatan terakhir.
Selain itu, judul “Sesi Potret” menyimbolkan momen foto bersama yang kini terasa pincang. Lirik “Sesi potret yang selalu ku benci, aneh rasanya kau tak di sini, susunan barisannya tak sama lagi” menunjukkan bahwa formasi keluarga atau orang terdekat telah berubah selamanya karena ada satu orang yang telah tiada.
Kejujuran dalam Ketidakikhlasan
Berbeda dengan lagu bertema kehilangan pada umumnya, “Sesi Potret” mengakui sulitnya proses ikhlas.
Pengakuan jujur muncul dalam baris: “Soal ikhlas ternyata aku masih amatir.” Hal ini menggambarkan sisi manusiawi di mana rasa gengsi dan kesedihan seringkali menghambat seseorang untuk menerima kenyataan dengan cepat.
Lirik Lagu “Sesi Potret” –Enau & Ari Lesmana
Tahun lalu berjuta alasanku
Maaf tak bisa pulang penghasilanku pas-pasan
Kali ini sudah lumayan
Berkat doamu di ijabah sang maha kaya
Dan tahun ini kubisa pulang Oleh-oleh sudah ditangan
Tapi anehnya bukan kau yang menyambutku
Oh ternyata kau yang lebih dulu pulang
Ku bertamu ke rumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Ha-ha-ha-ha
Sesi potret yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi
Oh ho ho satu dua tiga
Ini nyata kau telah pergi
Ku bertamu kerumah barumu
Tak ada kamu
Hanya papan dan namamu
Mana ocehan wewangian khasmu
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Sesal hatiku tak sempat temani kamu
Harusnya kubisikan kata ajaib ke telingamu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Masih sangat amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu
Kehilanganmu. (*)












