BeritaHeadline

LKAAM Sumbar Kirim 5,1 Ton Rendang untuk Korban Bencana NTT

×

LKAAM Sumbar Kirim 5,1 Ton Rendang untuk Korban Bencana NTT

Sebarkan artikel ini
LKAAM Sumatera Barat kirim bantuan 5.1 ton Rendang dengan pesawat Hercules menuju NTT. (Foto: Seruni.co)

SERUNI.CO – Sebanyak 5,1 ton rendang diberangkatkan dari Sumatera Barat (Sumbar) menuju Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang terdampak bencana.

Bantuan pangan tersebut dihimpun Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar bersama Gebu Minang dan diangkut menggunakan pesawat Hercules TNI AU.

Proses pemberangkatan bantuan berlangsung di halaman kantor LKAAM Sumbar. Sejumlah prajurit TNI AU terlihat mengatur pengangkutan kardus-kardus berisi rendang menuju truk militer.

Sejumlah ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat Minangkabau turut membantu mengangkat bantuan tersebut.

Ketua LKAAM Sumbar Prof. Dr. H. Fauzi Bahar Datuk Nan Sati, M.Si., juga turun langsung mengangkat kardus rendang bersama para prajurit.

Bagi masyarakat Minangkabau, rendang tidak hanya dikenal sebagai makanan, tetapi juga memiliki nilai kebersamaan, ketekunan dan tradisi badunsanak.

Nilai tersebut kali ini diwujudkan melalui bantuan untuk masyarakat NTT yang tengah menghadapi dampak bencana.

Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar mengatakan, kepedulian tersebut lahir dari pengalaman masyarakat Sumatera Barat saat menghadapi bencana.

Menurutnya, bantuan dari berbagai daerah pernah menjadi salah satu sumber kekuatan bagi masyarakat Sumbar untuk bangkit.

Baca Juga  Ribuan Warga Ikuti Deklarasi Anti Narkoba dan LGBT di Padang

“Kami pernah menerima bantuan bencana dari berbagai provinsi di Indonesia. Kami tahu bagaimana rasanya berada dalam bencana. Mungkin bantuan yang kita berikan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana gempa bumi di NTT,” ujar Fauzi, Sabtu (22/8).


LKAAM Sumatera Barat kirim bantuan 5.1 ton Rendang dengan pesawat Hercules menuju NTT. (Foto: Seruni.co)

Bantuan tersebut diberangkatkan ketika situasi kebencanaan masih berlangsung di NTT. Pada Kamis (20/8/2026) pukul 15.01.33 WIB, wilayah Flores diguncang gempa tektonik bermagnitudo 5,0.

Berdasarkan analisis BMKG yang tercantum dalam bahan laporan, pusat gempa berada di laut sekitar 47 kilometer arah timur laut Ruteng, Manggarai, dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa dangkal tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust dan tidak berpotensi tsunami.

Sebelumnya, gempa bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 dilaporkan menimbulkan dampak besar.

Dalam data yang menjadi bahan laporan, sebanyak 83 orang meninggal dunia, 986 orang mengalami luka-luka, sementara sekitar 110.785 warga harus mengungsi.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada puluhan ribu rumah, fasilitas umum, sarana ibadah, jalan hingga saluran irigasi.

Dampak bencana turut dirasakan sektor pendidikan. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan dilaporkan terdampak dan sejumlah bangunan sekolah mengalami kerusakan.

Baca Juga  Jelang Tahun Ajaran Baru, Perlengkapan Sekolah di Fase VII Lengkap

Dalam kondisi tersebut, kebutuhan dasar, terutama pangan bagi masyarakat yang masih berada di pengungsian, menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana.

Menurut Fauzi, pengiriman 5,1 ton rendang bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bentuk solidaritas masyarakat Sumbar kepada masyarakat NTT.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada TNI AU yang membantu mengangkut bantuan dalam jumlah besar tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada TNI AU dan khususnya Lanud Sutan Syahrir, Padang. Bantuan dari TNI AU sangat dibutuhkan dalam membawa 5,1 ton rendang ini langsung ke NTT,” katanya.

Proses pemindahan bantuan berlangsung di tengah terik matahari Padang. Prajurit TNI AU, ibu-ibu dengan pakaian adat Minangkabau dan jajaran LKAAM bersama-sama mengangkat serta memindahkan kardus rendang untuk memastikan bantuan siap diberangkatkan.

Dari Padang, bantuan rendang tersebut kemudian dibawa melalui jalur udara menuju NTT menggunakan pesawat Hercules TNI AU.

Rendang yang selama ini identik dengan tradisi Minangkabau kali ini menjadi bantuan pangan sekaligus simbol persaudaraan masyarakat Sumatera Barat untuk saudara mereka yang terdampak bencana di NTT. (*)