SERUNI.CO – Peristiwa bencana alam berupa gempa bumi tektonik dengan magnitudo 6,8 kembali melanda kawasan Pulau Kyushu pada Selasa (28/7/2026), tepatnya jam 14.27:15 WIB.
Berdasarkan data teknis, titik episenter berada di darat pada koordinat 32,682° LU dan 130,722° BT, atau berjarak sekitar 5 km arah timur Kota Uto dan 4 km tenggara Uki.
Sumber getaran ini bersumber dari kedalaman yang sangat dangkal, yaitu 10 km.
Mengenai karakteristik kejadian ini, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan kedangkalan hiposenter tersebut memicu guncangan tanah yang sangat ekstrem.
Skala intensitas seismik Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat level maksimum Shindo 7 di beberapa titik wilayah.
Merujuk pada kriteria pemetaan bencana di negara tersebut, Shindo 7 merupakan tingkatan tertinggi yang menggambarkan guncangan dahsyat hingga mampu merubuhkan struktur bangunan tahan gempa.
Pergerakan tanah berskala besar yang merata di Pulau Kyushu tersebut memicu dikeluarkannya peringatan tsunami setinggi 1 meter di wilayah pesisir, khususnya area Laut Ariake dan Laut Yatsushiro.
Meski demikian, tidak ada catatan tsunami dari peristiwa gempa ini.
“Dampak dari guncangan Shindo 7 merusak berbagai infrastruktur publik serta pemukiman warga secara masif. Laporan awal dari wilayah Hikawa mencatat setidaknya 50 warga mengalami luka-luka dan harus dilarikan ke rumah sakit,” kata dia.
Dampak fisik terpantau di Kota Yatsushiro, di mana sebuah cerobong asap fasilitas pabrik runtuh dan dinding batu kuno di kompleks bersejarah Yatsushiro Castle Ruins mengalami kerusakan.
Kerusakan benteng bersejarah juga kembali menimpa Kumamoto Castle yang berusia 400 tahun, di mana dinding utamanya yang sempat direkonstruksi pasca-bencana dekade lalu, kini kembali mengalami kerusakan berat.
Kondisi darurat warga memuncak saat insiden kebakaran dan ledakan terjadi di area bisnis, termasuk di pusat perbelanjaan Aeon Mall Kumamoto.
Akses mobilitas warga di pulau tersebut terhenti seketika. Berdasarkan pengamatan udara stasiun televisi lokal, terlihat kerusakan signifikan pada jalan tol Kyushu Expressway, dengan bentang jembatan yang tergeser dan terpisah pada bagian sambungan ekspansinya.
Di samping rekahan tanah berskala luas yang memutuskan jalur utama, layanan kereta cepat Shinkansen di seluruh rute Kyushu dihentikan guna memenuhi regulasi keselamatan.
Gangguan pasokan listrik melanda ribuan rumah penduduk, sementara getaran kuat ini memicu tanah longsor di Gunung Mayu, Shimabara, Prefektur Nagasaki, yang membentang di seberang teluk Kumamoto.
Apabila diamati dari titik geometrisnya, gempa M6,8 ini berada dalam satu sistem zona sesar dengan peristiwa gempa besar M7,0 yang mengguncang Kumamoto pada tahun 2016 lalu.
Pusat getaran pada insiden ini diperkirakan berhubungan langsung dengan Zona Sesar Hinagu, tepat di bagian barat daya segmen yang retak sepuluh tahun silam.
“Sesar Hinagu sendiri merupakan struktur sesar aktif di darat yang membentang dari wilayah tengah hingga barat daya Prefektur Kumamoto. Secara tektonik, sesar ini berkarakteristik geser mendatar mengiri (left-lateral strike-slip) dengan sedikit komponen vertikal (oblique-normal),” ucapnya.
Jalur Sesar Hinagu terhubung secara langsung dengan Sesar Futagawa di area utara. Kedua struktur geologi ini menjadi elemen utama penampung akumulasi energi tektonik di wilayah Pulau Kyushu.
Para peneliti gempa mengingatkan bahwa pelepasan energi pada gempa M6,8 ini belum tentu menandakan akhir dari aktivitas seismik.
Sampai saat ini belum bisa dipastikan apakah seluruh daya tekan batuan telah terlepas sepenuhnya atau masih menyimpan tekanan terkunci di sektor selatan.
“Apabila akumulasi tegangan di segmen selatan tersebut masih tersimpan, potensi kemunculan gempa susulan yang cukup kuat dapat terjadi, mengulang pola krisis seismik beruntun sebagaimana rentetan gempa Kumamoto 2016. Atas dasar ini, masyarakat beserta otoritas lokal diimbau untuk terus berada dalam tingkat kewaspadaan tertinggi,” jelasnya. (*)












