Ekonomi

Dilema Subsidi BBM saat Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

×

Dilema Subsidi BBM saat Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Harga minyak mentah global kembali meroket hingga melewati level psikologis US$115 per barel.

Kenaikan tajam ini menjadi sinyal waspada bagi perekonomian global, khususnya Indonesia yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi.

Pemicu utama lonjakan ini adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang mulai mengganggu jalur distribusi energi strategis, seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.

Ketidakpastian mengenai kapan konflik berakhir memperbesar risiko krisis energi global.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menjelaskan bahwa situasi ini menghantam Indonesia dari sisi pasokan sekaligus harga.

Sebagai net importer, Indonesia mengimpor minyak dalam jumlah besar, yakni sekitar 1,2 juta barel per hari.

“Nah, dengan kenaikan harga yang mencapai di atas US$100 tadi, maka defisit yang digunakan untuk membayar itu kan semakin besar,” ujar Fahmy kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/3).

Baca Juga  Astra International (ASII) Raih Restu RUPSLB untuk Buyback Saham Rp8 Triliun

Tekanan ini juga merembet ke sektor moneter.

Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga menembus angka Rp17.000 per dolar AS, yang berakibat pada semakin beratnya beban pembayaran impor energi nasional.

Kenaikan harga minyak dunia turut memicu imported inflation, di mana tingginya harga energi mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara masif.

Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit terkait kebijakan subsidi BBM.

“Kalau subsidi dipertahankan, harga BBM subsidi tidak naik, maka beban dari APBN itu akan semakin berat. Tapi kalau dinaikkan, inflasi naik dan daya beli turun,” jelas Fahmy.

Jika tidak diantisipasi, kenaikan harga kebutuhan pokok dapat menekan masyarakat berpenghasilan rendah dan berpotensi memicu persoalan sosial.

Fahmy menyarankan pemerintah untuk melakukan realokasi anggaran dengan memangkas belanja yang kurang prioritas guna menahan beban fiskal.

Baca Juga  BNI Operasikan 16 Cabang Terbatas Selama Libur Paskah 2026

Sektor Riil dan Logistik Terancam

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyoroti dampak signifikan pada sektor manufaktur, terutama industri dengan intensitas energi tinggi seperti petrokimia.

Kenaikan biaya produksi yang sulit dibebankan kepada konsumen akan menggerus margin laba pelaku usaha.

Selain manufaktur, sektor transportasi dan logistik juga berada dalam tekanan besar.

Kenaikan harga BBM non-subsidi dipastikan meningkatkan biaya operasional penerbangan, pelayaran, hingga jasa pengiriman barang.

“Nah Indonesia ini menjadi masalah karena kita negara kepulauan. Banyak angkutan barang kita itu antar pulau itu menggunakan kapal. Kalau harga BBM naik, pastinya akan naik juga tuh biaya angkutan. Sehingga kalau harga angkutan naik kan harga barang naik,” pungkas Fabby. (*)