Ekonomi

Saham GOTO Meningkat di Pasar Negosiasi Jelang Batas Akhir Rebalancing Indeks MSCI

×

Saham GOTO Meningkat di Pasar Negosiasi Jelang Batas Akhir Rebalancing Indeks MSCI

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Aktivitas transaksi tutup sendiri atau crossing saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terpantau kian intensif di pasar negosiasi.

Lonjakan pergerakan saham ini terjadi mendekati tenggat penyesuaian (rebalancing) indeks MSCI pada akhir bulan ini.

Berdasarkan catatan D’Origin, transaksi crossing saham GOTO mencapai Rp127,09 miliar dengan patokan harga rata-rata Rp24 per saham pada perdagangan Kamis (27/8/2026).

Di saat bersamaan, Morgan Stanley & Co International Plc ikut meramaikan negosiasi saham GOTO pada pekan ini.

Morgan Stanley tercatat memborong kisaran 3,8 miliar lembar saham GOTO di harga Rp23 per saham, yang menyerap nilai transaksi sekitar Rp87,3 miliar.

Aksi pemboyongan itu mengantarkan Morgan Stanley menguasai total 59,37 miliar saham, atau setara dengan kepemilikan 5,15% dari seluruh saham beredar GOTO.

Prospek Overweight dan Katalis Positif Versi JP Morgan

Di tengah dinamika pasar negosiasi, JP Morgan tetap mempertahankan pandangan overweight terhadap saham GOTO.

Berdasar kajian riset yang dirilis akhir bulan lalu, tim analis JP Morgan menilai pergerakan harga GOTO yang tertahan di kisaran Rp50 per saham sejak 5 Mei 2026 sudah terhitung undervalued.

Selain itu, JP Morgan mencermati potensi pergerakan volatil harga GOTO pascarencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batasan harga dasar atau saham gocap sebesar Rp50 per saham.

Meski demikian, kebijakan itu dinilai mampu menghadirkan sinyal positif bagi GOTO karena berpeluang meredam tekanan jual dari dana pasif.

Baca Juga  Saham Dian Swastatika Sentosa Catat Transaksi Jumbo Rp 1,3 Triliun

“Langkah tersebut akan memungkinkan ETF yang melacak indeks untuk melepas atau menyelesaikan posisi mereka, sehingga menghilangkan tekanan dari passive flows,” dikutip dari riset JP Morgan, Kamis (27/8/2026).

Kajian tersebut digarap oleh tim analis yang beranggotakan Ranjan Sharma, Steven Suntoso, Sigrid Qiu, Alex Yao, serta Benny Kurniawan.

“Pelaksanaan program buyback dan kejelasan yang lebih baik terkait regulasi merupakan katalis positif utama yang perlu diperhatikan dalam 6-12 bulan ke depan,” dikutip dari riset yang sama.

Dari sisi kinerja keuangan, GOTO berhasil membukukan laba bersih hingga Rp607 miliar serta pendapatan bersih sebesar Rp10,99 triliun pada masa peragaan semester I-2026.

Penopang pendapatan terbesar GOTO bersumber dari unit jasa pengiriman senilai Rp3,2 triliun (naik 16,5%), disusul imbalan jasa sejumlah Rp3,15 triliun (naik 14,9%), serta hasil pendapatan pinjaman sebesar Rp2,71 triliun (melonjak 65%).

Sumber pendapatan lainnya diperoleh melalui e-commerce service fee PT Tokopedia sebesar Rp551 miliar (naik 32,3%) dan perolehan iklan sebesar Rp254 miliar (naik 8%).

Adapun sisa pendapatan dari pos lain-lain mencatatkan angka Rp1,13 triliun, atau melesat 46,5% dibandingkan periode semester I tahun lalu.

Tantangan Indeks MSCI dan Strategi Pemulihan Perseroan

Mengutip laporan Bloomberg News, potensi dikeluarkannya GOTO dari deretan indeks MSCI berisiko menjadi tekanan terbaru bagi perseroan, setelah sebelumnya sempat diterpa kerugian besar akibat sengitnya persaingan dengan kompetitor bermodal kuat seperti Grab Holdings Ltd.

Meskipun demikian, serangkaian perombakan kepemimpinan dan efisiensi berhasil membantu perusahaan mencetak keberhasilan laba kuartalan untuk dua kali secara beruntun.

Baca Juga  Harga Plastik Melonjak 60 Persen, Pengusaha Coffee Shop di Padang Mulai Sesuaikan Harga

Capaian ini diraih di tengah menguatnya tekanan terhadap margin akibat lonjakan harga minyak yang terimbas konflik geopolitik di Timur Tengah.

Perusahaan yang disokong oleh Alibaba Group Holding Ltd. ini sempat mencatatkan sejarah sebagai salah satu entitas paling bernilai di Indonesia.

Kapitalisasi pasar GOTO pernah menembus US$32 miliar tak lama setelah melantai di bursa domestik pada April 2022.

Namun, laju optimisme tersebut perlahan menyusut lantaran kecemasan investor terhadap kejelasan pemulihan profitabilitas serta disiplin pengelolaan keuangan perusahaan.

Upaya memacu aktivitas perdagangan serta mengadang potensi penghapusan dari indeks-termasuk dorongan dari pihak MSCI agar otoritas bursa menghilangkan batas harga terendah (price floor)-sejauh ini belum membuahkan hasil nyata, berdasarkan informasi sumber internal yang enggan disebutkan namanya.

Hans Patuwo, yang memegang tongkat kepemimpinan sebagai CEO GOTO sejak akhir tahun lalu pascadesakan pemegang saham besar untuk mengganti direksi sebelumnya, telah menyatakan komitmennya untuk memperbaiki kinerja perusahaan.

Sebagai langkah lanjutan, manajemen GOTO tengah mengkaji opsi reverse stock split demi mendongkrak nilai harga saham.

Rencana ini melengkapi agenda peluncuran buyback saham dengan alokasi hingga Rp3,5 triliun (US$196 juta) serta skema pembatalan saham treasuri.

“Kami ingin memastikan kondisi makroekonomi sudah tepat sehingga ketika kami menggunakan dana tersebut, dampak yang dihasilkan sesuai dengan yang kami harapkan.” (*)