SERUNI.CO – Isu poligami dan perselingkuhan yang meretakkan dinamika rumah tangga kembali diangkat ke layar lebar melalui film Berbagi Suami 2.0.
Mengambil latar lokasi di Yogyakarta, Solo, serta Jakarta, karya sinema ini memantik ruang diskusi publik mengenai konflik antara suami, istri, hingga anak-anak akibat keputusan poligami yang diawali dari perselingkuhan.
Film ini turut menyoroti bagaimana anak-anak terpaksa melalui proses pematangan emosi serta menata ulang perjalanan hidup mereka usai ditinggal wafat oleh orang tua.
Kondisi ini menyisakan nestapa bagi lingkaran keluarga yang ditinggalkan.
Proses Pengambilan Gambar dan Potret Sosial-Budaya
Proses syuting film ini telah bergulir sejak 21 Mei lalu di Yogyakarta, yang kemudian berlanjut ke Kota Solo dan dituntaskan di Jakarta.
Selain menyajikan alur cerita utama, pengambilan gambar di berbagai kota tersebut ditujukan untuk mengeksplorasi latar sosial-budaya masyarakat di luar ibu kota, khususnya terkait relasi keluarga serta posisi perempuan di tengah era digital saat ini.
Langkah pengangkatan tema ini bertepatan dengan tingginya perhatian publik serta perbincangan di media sosial mengenai perselingkuhan dan poligami di Indonesia.
Kendati para pelaku dan korban mulai terbuka membagikan pengalaman mereka, penderitaan secara psikologis serta tindakan penelantaran terhadap kaum perempuan dinilai belum tersentuh secara menyeluruh.
Sutradara sekaligus penulis film Berbagi Suami 2.0, Nia Dinata, mengungkapkan pandangannya mengenai peran media film dalam menyoroti ketimpangan sosial tersebut.
“Sinema adalah ruang artistik untuk mengungkapkan keresahan dan ketidakadilan dengan luwes dan terbuka. Sudah saatnya kita mempertanyakan kembali relasi kuasa yang timpang antara istri-suami, juga anak yang sudah menjadi bagian dari sebuah perkawinan.” ujar Nia Dinata.
Tiga Karakter Utama dan Reuni Tim Produksi
Berbagi Suami 2.0 hadir sebagai karya anyar yang mengusung kisah tiga karakter utama perempuan beserta anak-anak mereka, dengan benang merah isu poligami dalam kehidupan berkeluarga modern.
Karya ini tidak berfokus pada penghakiman, melainkan menjadi ajakan untuk menyelami luka emosional, ketimpangan relasi, serta dampak yang kerap disembunyikan atau dianggap lumrah di masyarakat.
Di bawah naungan bendera Kalyana Shira Films, produksi film ini juga ditangani oleh Melissa Karim selaku produser.
“20 tahun yang lalu saya ikut berakting menjadi anak yang baru mengetahui bahwa ayahnya (yang saat itu diperankan oleh aktor kawakan Tio Pakusadewo) berpoligami. Sekarang saya membuat film ini bersama team yang sudah begitu lama kenal, bagaikan sebuah keluarga besar yang memiliki satu visi, untuk terus membuat film yang kritis dan baik bagi masyarakat kita.” ujar Melissa Karim.
Proyek sinematik ini sekaligus menjadi ajang reuni bagi jajaran kru di belakang layar, termasuk Penata Sinematografi Ipung Rachmat Syaiful, Penata Busana Tania Soeprapto, serta Penata Musik Aghi Narottama dan Ramondo Gascaro yang kembali berkolaborasi.
Jadwal Pascaproduksi dan Target Penayangan
Saat ini, Berbagi Suami 2.0 telah memasuki tahap penyuntingan gambar (editing). Rangkaian pascaproduksi kemudian bakal dilanjutkan dengan pembuatan musik, lagu theme song, sound mixing, hingga proses akhir lainnya yang dijadwalkan berlangsung mulai akhir Juli sampai November 2026 mendatang.
Proses pengerjaan tersebut akan memperhatikan setiap detail penting khas Nia Dinata yang menghargai waktu dan tahapan penyelesaian film secara matang.
Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, film Berbagi Suami 2.0diproyeksikan siap tayang dan dinikmati publik pada kuartal pertama (Q1) tahun 2027. (*)












