Gaya Hidup

Lirik dan Makna Lagu Pesta Para Babi Pembangunan, Kritik Eksploitasi Papua

×

Lirik dan Makna Lagu Pesta Para Babi Pembangunan, Kritik Eksploitasi Papua

Sebarkan artikel ini
Lirik dan Makna Lagu Pari Kesit - Pesta Para Babi Pembangunan. (Tangkapan Layar Pari Kesit)

SERUNI.CO – Karya terbaru dari Pari Kesit Entertainment sukses mencuri perhatian netizen dan menjadi sorotan luas di berbagai platform media sosial.

Lagu yang baru saja dirilis tersebut diberi judul Pesta Para Babi Pembangunan.

Dalam proses produksinya, lagu ini memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Inspirasi utamanya datang dari Pesta Babi, sebuah film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono yang sempat menghadapi pelarangan tayang di sejumlah wilayah.

Kritik Eksploitasi Alam dan Tekanan Aparat

Secara naratif, lagu ini menyuarakan tentang ancaman serius akibat eksploitasi alam yang terjadi di tanah Papua.

Di dalam dinamika tersebut, masyarakat adat Papua kerap diposisikan sebagai penghambat jalannya proyek strategis nasional.

Konflik pun mencuat ketika masyarakat adat yang mempertahankan lahan mereka dari eksploitasi harus berhadapan dengan tekanan yang melibatkan aparat keamanan.

Pari Kesit terbukti konsisten dan serius dalam melayangkan kritik sosial melalui medium musik berbasis teknologi AI.

Sebelum merilis karya ini, ia juga telah menciptakan lagu-lagu lain yang terinspirasi dari topik MBG, sosok pemimpin penindas, serta tema-tema sejenis.

Respons Netizen di YouTube

Ditayangkan perdana di YouTube pada Rabu, 13 Mei 2026, video yang diunggah oleh kanal YouTube Pari Kesit ini telah disaksikan sebanyak 706 kali hingga tanggal 20 Mei 2026.

Kolom komentar video tersebut pun langsung dibanjiri respons dari para pengguna YouTube.

“Ya Allah, kami rakyat ikhlas jika engkau mengazab para pemimpin di negeri ini,” tulis akun Deanassg738.

“Kita harus tetap berisik. Jangan diam! Papua bukan tanah kosong, Papua adalah Indonesia,” ungkap akun Novianazulbani214.

“Tidak hanya Papua, kami yg tinggal di Kalimantan juga merasakan. aku tinggal di Kalteng di mana² sdh dikelilingi sawit dan tambang,” komentar dari Pratiwihasanah.

Lirik Lagu – Pesta Para Babi Pembangunan

Tanah dibakar atas nama pangan Hutan dibelah atas nama masa depan Selamat datang di pesta para babi pembangunan

Papua menangis di balik proposal korporasi Negara bicara stabilitas sambil tanam kolonisasi Bendera berkibar tinggi, tanah dijual rapi Konstitusi cuma badut lusuh buat dekorasi

Baca Juga  Makna Lagu Sesi Potret, Kolaborasi Enau dan Ari Lesmana Tentang Kehilangan

Dulu peluru, sekarang kontrak investasi Dulu serdadu, kini pakai legalisasi

Sawit subur Sagu dikubur Tanah leluhur Selain donatur jangan mengatur

Bioetanol, biodiesel, istilah elit feodal Suku adat dianggap sebagai penghalang Kekayaan alam Papua terancam hilang Oleh kapitalisme terstruktur dan berseragam

Kau lihat tentara bagi sembako Lalu tepuk tangan nasionalis Besok tanahmu digusur Baru sadar siapa antagonis

Ini bukan negara gagal Ini negara diperkosa modal Undang-undang senjata birokrasi brutal Suku adat dijual skala besar

Negara bicara damai sambil kirim ketakutan Atas nama pembangunan mereka kubur kehidupan Tanah Papua terancam punah dari peradaban Apakah aku kamu akan tetap diam?

Tanah dibakar atas nama pangan Hutan dibelah atas nama masa depan Selamat datang di pesta para babi pembangunan

Dulu penjajah datang pakai kapal Sekarang negara pakai proposal Dulu merampok dengan senapan Sekarang negara pakai pasal perlindungan

Makna Setiap Lirik Lagu Pesta Para Babi Pembangunan

Melalui lirik-lirik yang ditulis dalam Pesta Para Babi Pembangunan, Pari Kesit Entertainment menyampaikan sebuah kritik sosial yang tajam dan mendalam.

Berikut adalah bedah makna dari lagu tersebut yang diuraikan secara cerdas dan struktural:

1. Dekonstruksi Narasi Pembangunan dan Retorika Negara

“Tanah dibakar atas nama pangan / Hutan dibelah atas nama masa depan” “Negara bicara stabilitas sambil tanam kolonisasi”

Lirik ini menguliti paradoks dari proyek strategis nasional. Pencipta lagu menyoroti bagaimana diksi-diksi mulia seperti “pangan”, “masa depan”, dan “stabilitas” sering kali dijadikan pembenaran (justifikasi) untuk melakukan perusakan lingkungan skala besar.

Ada ironi yang cerdas di sini: pembangunan yang seharusnya menyejahterakan, justru menjadi alat subordinasi baru (kolonisasi modern) bagi wilayah yang kaya sumber daya alam seperti Papua.

2. Aliansi Kapitalisme Global dan Institusi Hukum

“Dulu peluru, sekarang kontrak investasi / Dulu serdadu, kini pakai legalisasi” “Undang-undang senjata birokrasi brutal”

Pencipta lagu menunjukkan pemahaman yang matang mengenai pergeseran metode penindasan.

Jika di masa lalu penaklukan wilayah dilakukan secara konvensional dengan militerisme (“peluru” dan “serdadu”), kini penindasan bermutasi menjadi lebih rapi dan sistemis melalui jalur birokrasi, hukum, dan ekonomi.

Baca Juga  Mengulas Makna Mendalam di Balik Lirik Lagu Berusaha di Bawah Hujan Milik Idgitaf

Aturan hukum dan regulasi investasi didekonstruksi bukan sebagai pelindung rakyat, melainkan sebagai instrumen “legal” untuk memfasilitasi akumulasi modal bagi para pemodal besar.

3. Degradasi Budaya dan Identitas Suku Adat

“Sawit subur / Sagu dikubur / Tanah leluhur” “Bioetanol, biodiesel, istilah elit feodal”

Potongan lirik ini secara jenius menggambarkan benturan antara modernitas korporat dan kearifan lokal.

Penanaman kelapa sawit secara masif digambarkan langsung mematikan pohon sagu, yang bukan sekadar bahan pangan pokok, melainkan simbol identitas hidup masyarakat adat.

Penggunaan istilah ramah lingkungan seperti “bioetanol” dan “biodiesel” dikritik sebagai jargon kosmetik kaum elit yang mengaburkan fakta bahwa masyarakat lokal sedang kehilangan kedaulatan atas tanah leluhurnya.

4. Kamuflase Humaniter dan Kehadiran Aparat

“Kau lihat tentara bagi sembako / Lalu tepuk tangan nasionalis / Besok tanahmu digusur / Baru sadar siapa antagonis”

Lirik ini memberikan analisis psikososial yang tajam mengenai taktik soft power. Pembagian kebutuhan pokok atau aksi sosial oleh aparat keamanan digambarkan sebagai bentuk kamuflase atau penjinakan opini publik.

Nasionalisme warga dimanipulasi agar mereka abai terhadap realita agraria yang sedang terjadi, hingga akhirnya penggusuran menyadarkan mereka tentang siapa yang sebenarnya diuntungkan dari situasi tersebut.

5. Komodifikasi Negara oleh Modal

“Ini bukan negara gagal / Ini negara diperkosa modal” “Dulu merampok dengan senapan / Sekarang negara pakai pasal perlindungan”

Sebagai kesimpulan yang provokatif, pencipta menegaskan bahwa instabilitas di daerah konflik lahan bukan karena ketidakmampuan negara dalam mengelola wilayah (negara gagal).

Sebaliknya, ini adalah bentuk subordinasi negara di bawah kendali kapitalisme (diperkosa modal).

Ketika pasal-pasal perlindungan hukum beralih fungsi menjadi pelindung investasi korporasi daripada hak asasi masyarakat adat, perampokan ruang hidup beralih rupa menjadi legal dan konstitusional.

Secara keseluruhan, lagu ini menggunakan metafora Babi Pembangunan untuk menggambarkan sifat keserakahan yang tidak pernah puas dari para aktor pembangunan gabungan antara donatur, korporasi, dan birokrat yang berpesta di atas hilangnya ruang hidup, kebudayaan, dan masa depan peradaban masyarakat adat Papua. (*)