Olahraga

Ratusan Campers DBL Camp 2026 Jalani Tes Medis Ketat

×

Ratusan Campers DBL Camp 2026 Jalani Tes Medis Ketat

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Kompleks DBL Academy Jakarta yang terletak di kawasan Jakarta Garden City kini resmi menjadi titik kumpul bagi lebih dari 300 campers terbaik yang berdatangan dari seantero penjuru Indonesia.

Seluruh talenta muda ini mengusung motivasi serupa, yakni mengejar impian besar untuk bisa mengenakan seragam Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026.

Kendati demikian, sebelum kompetisi di atas lapangan dimulai dan bola resmi dilemparkan, terdapat satu agenda mendasar yang diwajibkan untuk diselesaikan terlebih dahulu.

Agenda tersebut adalah memastikan bahwa kondisi fisik dari setiap tubuh pemain benar-benar berada dalam status siap tempur guna menghadapi rangkaian kegiatan ke depan.

Sebagai pembuka dari seluruh rangkaian program, DBL Camp 2026 menyelenggarakan Measurement Test serta Medical Check Up (MCU).

Berbeda dengan pelaksanaan di periode-periode terdahulu, standar pengecekan medis pada musim ini melompat jauh lebih tinggi.

Pihak DBL secara resmi menggandeng VALD Performance untuk memboyong perangkat teknologi mutakhir, yang lazim diaplikasikan pada level olahraga profesional tingkat dunia, guna membedah kondisi fisik para pelajar Indonesia.

Terdapat tiga perangkat utama yang dikerahkan dalam tes ini, yakni Nordbord yang berfungsi mengukur kekuatan otot hamstring, Force Frame untuk membedah kekuatan otot kaki secara isometrik, serta Force Decks yang bertugas mengukur tinggi lompatan sekaligus kalkulasi tenaga saat mendarat.

Baca Juga  AC Milan Siap Jamu Venezia di San Siro, Laga Kandang Perdana Ruben Amorim

Output dari perangkat ini bukan sekadar angka mati, melainkan sebuah peta kondisi fisik komprehensif dari tiap pemain yang dapat dibaca, dianalisis, sekaligus dijadikan pijakan dasar dalam pengambilan keputusan oleh tim medis maupun jajaran pelatih.

Berdasarkan tangkapan data awal yang disajikan oleh teknologi VALD, Konsultan Medis DBL Indonesia, dr. Tommy, langsung mendeteksi adanya indikasi yang patut diwaspadai sejak dini.

“Secara garis besar, kita bisa melihat kekuatan otot dan power dari para pemain terbaik Indonesia ini. Temuan awalnya, ada problem asimetri atau ketidakseimbangan kanan-kiri pada beberapa pemain. Ini penting karena asimetri di atas 10 persen memiliki risiko cedera yang jauh lebih tinggi,” jelas dr. Tommy.

Kondisi asimetri berupa ketimpangan kekuatan antara sisi kanan dan kiri tubuh tersebut biasanya terbentuk dari pola kebiasaan dalam jangka panjang.

Para atlet yang memiliki kecenderungan terlalu dominan menggunakan satu sisi tubuh tanpa disadari memicu terjadinya ketimpangan, di mana hal ini dapat berakibat fatal ketika tubuh dipaksa beraktivitas dalam intensitas tinggi.

Data akurat dari VALD inilah yang ke depannya dijadikan landasan edukasi terkait pencegahan cedera bagi seluruh campers.

Di luar pemanfaatan teknologi VALD, para peserta juga diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dengan dukungan penuh dari Hermina Group.

Baca Juga  The Kmers Boikot Pertandingan Semen Padang FC, Protes Sikap Manajemen

Pemeriksaan medis ini mencakup analisis komposisi tubuh hingga pengecekan muskuloskeletal secara sangat detail.

Faktor yang membuat agenda MCU pada tahun ini berjalan jauh lebih efisien adalah adanya proses konfirmasi langsung terhadap rekam jejak riwayat cedera, yang sebelumnya sudah diisi secara mandiri oleh setiap campers sebelum kedatangan mereka.

“Kami melakukan pemeriksaan lebih spesifik dan detail bagi campers yang memiliki catatan riwayat operasi atau cedera tertentu. Teman-teman dari Hermina membantu memastikan apakah mereka siap untuk mengikuti intensitas kamp yang tinggi selama enam hari ke depan,” imbuh dr. Tommy.

Bagi jajaran kru kepelatihan, seluruh tumpukan data medis tersebut dipandang sebagai sebuah kompas penunjuk arah yang sangat berharga.

“Alat-alat baru ini sangat membantu kami melakukan kontrol ke campers, terutama untuk melihat potensi cedera dan efektivitas gerak mereka,” ungkap Coach Ibnu Zakaria Dwinanda, selaku Head Coach DBL Academy.

Melalui standardisasi ketat ini, pada gelaran DBL Camp 2026, dipastikan tidak akan ada satu pun pemain yang diperkenankan menginjakkan kaki di lapangan tanpa terlebih dahulu diketahui secara pasti bagaimana kondisi riil tubuhnya. (*)