Ekonomi

Pengguna QRIS Sumbar Tembus 1 Juta, BI Dorong UMKM Go Digital dan Global

×

Pengguna QRIS Sumbar Tembus 1 Juta, BI Dorong UMKM Go Digital dan Global

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Tren transaksi non-tunai lewat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Sumatera Barat (Sumbar) terus mencatatkan angka positif.

Memasuki Semester I 2026, jumlah pengguna QRIS di Sumbar telah menyentuh angka 1,08 juta, disokong oleh kehadiran sekitar 754 ribu merchant.

Capaian pertumbuhan transaksi digital ini menjadi cerminan dari kian meluasnya penerapan digitalisasi di tengah masyarakat serta pelaku usaha, khususnya sektor UMKM.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Barat, M. Abdul Majid Ikram, menyampaikan bahwa sentuhan teknologi digital merupakan kunci penting agar UMKM dapat naik kelas dan memperkuat daya saing produk lokal.

“Digitalisasi bukan hanya soal pembayaran. Digitalisasi harus mampu membantu UMKM dalam pemasaran, pencatatan transaksi, efisiensi usaha, sampai membuka akses pembiayaan dan pasar,” ujar Majid dalam rangkaian Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCF) 2026 di Padang, Jumat (28/8/2026).

Pemanfaatan teknologi digital ini memberikan peluang nyata bagi UMKM untuk mengelola bisnis lebih efisien sembari menjangkau pasar yang lebih luas.

Gagasan ini sejalan dengan pelaksanaan SCF 2026 yang diusung BI Sumbar pada 28-30 Agustus 2026 di Grand Ballroom Hotel Pangeran Beach, Padang.

Mengangkat tema “Creative Culture for Digital and Sustainable Future: Mendorong Daya Saing Ekonomi Kreatif Sumatera Barat Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”, perhelatan ini menjadi sarana BI dalam mengakselerasi transformasi digital dan mengukuhkan daya saing UMKM Sumbar.

Ajang SCF 2026 tidak sekadar menggelar pameran produk, tetapi juga menghubungkan UMKM secara langsung dengan buyer, perbankan, investor, pemerintah, akademisi, komunitas, hingga masyarakat luas.

Baca Juga  BNI Resmi Tutup Layanan Internet Banking per 21 April 2026, Alihkan Nasabah ke wondr dan BNI direct

Tercatat lebih dari 60 UMKM ambil bagian dalam SCF Fair dengan memamerkan beragam produk unggulan Sumbar, seperti wastra, fesyen, kriya dan kerajinan, olahan makanan dan minuman, kopi, teh, hingga produk berkonsep keberlanjutan.

Majid menekankan pentingnya menempatkan digitalisasi sebagai bagian dari strategi pengembangan UMKM secara menyeluruh.

Contohnya, penerapan QRIS yang efektif membantu pelaku usaha merapikan pencatatan transaksi sekaligus membentuk rekam jejak usaha.

Laporan rekam transaksi tersebut nantinya dapat dimanfaatkan UMKM sebagai modal berharga untuk membesarkan bisnis dan membuka pintu akses pembiayaan.

Di samping memacu digitalisasi, BI Sumbar juga konsisten meningkatkan kapasitas serta jangkauan pasar pelaku UMKM.

Strategi ini dijalankan melalui pembinaan UMKM, korporatisasi, perluasan akses pembiayaan, hingga memfasilitasi akses pasar di skala lokal, nasional, maupun global.

Keberhasilan strategi ini terlihat pada gelaran Karya Kreatif Indonesia 2026 yang berlangsung 20–23 Agustus 2026 lalu, di mana perwakilan UMKM Sumbar sukses mengantongi penjualan melebihi Rp1 miliar.

“Dari nagari untuk negeri. Kita ingin membawa UMKM bukan hanya menghasilkan produk yang baik, tetapi menjadi bisnis yang kuat, mampu masuk ke pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya menghasilkan prestasi,” kata Majid.

Ia menambahkan bahwa ruang pertumbuhan bagi UMKM di Sumbar masih terbuka sangat lebar.

Ditopang oleh lebih dari 662 ribu unit UMKM, Sumbar memiliki pondasi ekonomi yang solid berlandaskan budaya dan kreativitas lokal.

Komoditas unggulan seperti tenun, songket, sulaman, kriya, kuliner, kopi, dan teh dinilai memiliki prospek besar untuk terus dikembangkan agar memberi nilai tambah serta daya saing di pasar yang lebih luas.

Baca Juga  BNI Bawa Fitur KPR Cermat di Danantara Housing Expo 2026 Tawaran Diskon Bunga

Penguatan sisi digital ini turut ditujukan untuk memboyong produk lokal menembus pasar internasional.

BI mendorong pelaku usaha tidak hanya terampil dalam pemasaran digital, tetapi juga sanggup menjaga kapasitas produksi, standar kualitas, serta kontinuitas pasokan guna memenuhi permintaan pasar.

“Kalau sudah 5 juta US$, bahkan 10 juta US$, kita meyakinkan produknya ini ada atau tidak. Kalau sudah ada, kualitasnya sepanjang ada atau tidak. Nah, ini yang menjadi tantangan buat kami juga,” jelas Majid.

Oleh karena itu, BI mendorong penguatan kelembagaan dan korporatisasi UMKM guna membantu pelaku usaha menyatukan kekuatan produksi demi memenuhi permintaan skala besar secara berkelanjutan.

Dalam perhelatan SCF 2026, BI turut memfasilitasi agenda business matching pembiayaan UMKM yang berhasil menorehkan nilai sebesar Rp101,918 miliar, mendampingi program business matching ekspor yang mempertemukan UMKM dengan calon buyer serta importir potensial.

Melihat capaian Semester I 2026 dengan 1,08 juta pengguna QRIS dan 754 ribu merchant, BI Sumbar optimistis digitalisasi adalah fondasi utama dalam menciptakan ekosistem UMKM yang solid.

Proses transformasi digital diharapkan tidak berhenti sebatas fungsi QRIS sebagai kanal pembayaran, namun terus berkembang menjadi bagian dari tata kelola operasional, sistem pemasaran, pembukuan keuangan, pembuka akses pembiayaan, hingga ekspansi jangkauan pasar.

Lewat paduan program-program tersebut, BI Sumbar terus mendorong UMKM untuk melangkah dari pasar lokal menuju ranah yang lebih luas, serta bertransformasi dari sekadar penghasil produk baik menjadi entitas bisnis yang tangguh.