Gaya Hidup

Mengenal Post Holiday Blues, Tantangan Mental Usai Libur Lebaran 2026

×

Mengenal Post Holiday Blues, Tantangan Mental Usai Libur Lebaran 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Post Holiday Blues di kantor. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi Post Holiday Blues di kantor. (Foto: Istimewa)

SERUNI.CO – Berakhirnya masa libur panjang Lebaran 2026 kerap menyisakan beban emosional bagi sebagian orang saat harus kembali ke rutinitas pekerjaan.

Kondisi psikologis ini dikenal secara medis dengan istilah post holiday blues.

Berdasarkan penjelasan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), post holiday blues merupakan sebuah sindrom yang muncul pasca-liburan, dipicu oleh kombinasi faktor fisik dan mental.

Gejala yang sering dirasakan meliputi rasa sedih, kelelahan, penurunan motivasi, hingga kesulitan beradaptasi dengan aktivitas harian.

Penyebab dan Dampak Signifikan Beberapa faktor utama pemicu kondisi ini antara lain perubahan lingkungan yang drastis, kelelahan fisik, serta rasa kecewa karena harus meninggalkan suasana libur yang menyenangkan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa gejala seperti cemas dan sulit berkonsentrasi setelah Lebaran sering dipicu oleh perjalanan jauh, tekanan finansial, hingga ekspektasi sosial untuk terlihat sukses.

Fenomena ini bukan perkara sepele. Mengutip data survei World Travel & Tourism Council (WTTC) tahun 2023 yang diberitakan Kompas, sebanyak 41 persen pemudik di Indonesia mengalami gejala kecemasan serta depresi ringan hingga sedang.

Baca Juga  Wonderlab Senayan City Padukan Permainan Mekatronik dan Edukasi Anak

Jika tidak ditangani, hal ini berdampak pada penurunan produktivitas kerja dan peningkatan biaya ekonomi akibat absensi.

Kelompok Paling Rentan Kemenkes menyoroti bahwa kelompok tertentu di Indonesia memiliki kerentanan lebih tinggi:

  • Remaja dan Mahasiswa: Rentan gangguan emosional karena tekanan akademik dan sosial.
  • Perantau: Sering merasakan kesepian setelah kembali ke kota dan kehilangan dukungan emosional keluarga.
  • Perempuan: Berisiko mengalami depresi akibat tekanan sosial, peran ganda, dan beban finansial.
  • Lansia: Menghadapi risiko dari rasa sepi dan penyakit kronis.

Tips Mengatasi Post Holiday Blues Imran Pambudi menekankan pentingnya kesadaran diri dan konsistensi dalam melakukan transisi. Berikut beberapa langkah efektif yang disarankan:

  1. Transisi Bertahap: Ambil waktu satu atau dua hari untuk menata ulang rutinitas sebelum mulai bekerja penuh.
  2. Pola Hidup Sehat: Menjaga tidur teratur, konsumsi makanan seimbang, dan olahraga ringan.
  3. Koneksi Sosial: Tetap menjalin komunikasi dengan kerabat melalui panggilan video.
  4. Batasi Media Sosial: Menghindari perbandingan hidup dengan orang lain yang dapat memperburuk suasana hati.
  5. Aktivitas Positif: Memanfaatkan ruang publik atau komunitas olahraga untuk mengurangi isolasi.
Baca Juga  Rahasia Ketiak Segar Sepanjang Hari, Panduan Lengkap Cara Pakai Deodoran yang Benar

“Jika gejala berlanjut lebih dari dua minggu atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater,” tegas Imran.

Fenomena Global Kondisi ini merupakan pola global yang juga ditemukan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada, terutama setelah libur Natal dan Tahun Baru.

“Gambaran ini menunjukkan bahwa fenomena post holiday blues bukan hanya terjadi di Indonesia setelah Lebaran, tetapi juga merupakan pola global yang dipengaruhi oleh tekanan sosial, ekspektasi kebahagiaan, serta transisi mendadak kembali ke rutinitas,” tutup Imran. (*)