SERUNI.CO – Kedudukan seorang panghulu bukanlah sebatas simbol tradisi atau gelar kehormatan kaum semata, melainkan sebuah tanggung jawab besar dalam mengawal kehormatan nagari sekaligus mendidik generasi muda Minangkabau di tengah hantaman perubahan sosial yang masif.
Penegasan tersebut diutarakan langsung oleh Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah.
Pesan mendalam itu disampaikan oleh Mahyeldi kala menghadiri langsung rangkaian prosesi Batagak Pangulu Zulhamdi Nova Candra IB, A.Md, yang kini resmi menyandang gelar Datuak Nagari Labiah di Nagari Guguak Panjang, Kota Bukittinggi, Minggu (17/5/2026).
Dalam pidato sambutannya, Mahyeldi menggarisbawahi bahwa seorang panghulu wajib menjadi sosok panutan yang memegang teguh kepercayaan kaum serta masyarakat luas.
Menurut pandangannya, penyematan gelar datuak tidaklah dilakukan secara asal-asalan karena di dalamnya melekat tanggung jawab yang besar terhadap anak kemenakan beserta dinamika kehidupan sosial di nagari.
“Pangulu ditunjuak urang nan dipicayo, gala tibo di urang nan bana. Artinya, penghulu adalah orang yang dipercaya dan gelar itu diberikan kepada orang yang memang layak,” kata Mahyeldi.
Mahyeldi memaparkan bahwa rintangan yang dihadapi niniak mamak dan pemuka adat pada masa sekarang jauh lebih menantang dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Oleh sebab itu, panghulu dituntut untuk senantiasa hadir dalam membentengi kaum muda dari bermacam-macam perilaku menyimpang yang dapat merusak masa depan nagari.
“Generasi muda harus dijaga dan dilindungi dari hal-hal negatif serta perilaku menyimpang. Panghulu bersama niniak mamak punya tanggung jawab membina dan menyosialisasikan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, serta adat salingka nagari,” ujarnya.
Ia pun menyoroti fenomena penurunan moral di kalangan generasi muda saat ini, yang dipicu oleh minimnya pemahaman terhadap ajaran agama serta nilai adat, penyalahgunaan narkotika, pergaulan bebas, hingga dampak buruk dari kemajuan teknologi informasi.
“Saat ini moral generasi muda mengalami degradasi yang tinggi. Kalau generasi mudanya hancur, maka hancurlah suatu nagari,” tegas Mahyeldi.
Kendati demikian, Mahyeldi menilai persoalan pelik tersebut tidak dapat ditumpukan kepada pundak panghulu seorang diri.
Diperlukan kesolidan dan sinergi dari segenap elemen masyarakat, mulai dari jajaran pemerintah daerah, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, hingga bundo kanduang, agar eksistensi nilai adat Minangkabau tetap lestari.
“Jangan jadikan perbedaan peran sebagai sumber kelemahan yang memecah belah kita. Jadikan itu sebagai kekuatan bersama untuk membangun nagari,” tuturnya.
Dirinya menaruh harapan besar, dengan dikukuhkannya Zulhamdi Nova Candra sebagai Datuak Nagari Labiah, implementasi nilai-nilai adat serta filosofi ABS-SBK di Kota Bukittinggi, khususnya di wilayah Kurai Limo Jorong, dapat semakin kokoh sekaligus terjaga dengan baik di masa depan.
Dalam momentum tersebut, Mahyeldi tidak lupa menghaturkan ucapan selamat kepada Zulhamdi Nova Candra IB, A.Md atas amanah baru yang diembannya sebagai panghulu suku Jambak.
Ia berharap predikat adat tersebut dapat dijalankan dengan dedikasi penuh demi menjaga martabat kaum maupun nagari.
Pada kesempatan yang sama, Zulhamdi Nova Candra Datuak Nagari Labiah menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan segala arahan serta wejangan yang dititipkan oleh Gubernur Sumbar.
Ia menegaskan kembali komitmennya bersama para niniak mamak di Kurai Limo Jorong dalam merawat adat sekaligus memperkuat pola pembinaan terhadap anak kemenakan.
“Insya Allah apa yang disampaikan Pak Gubernur menjadi cita-cita kami di nagari. Apa yang dilakukan nantinya adalah untuk anak kemenakan dan untuk nagari kita bersama,” ucapnya. (*)












