Berita

Peringati 124 Tahun Bung Hatta, PDI Perjuangan dan Seniman Gelar Pertunjukan Naratif-Musikal di Padang

×

Peringati 124 Tahun Bung Hatta, PDI Perjuangan dan Seniman Gelar Pertunjukan Naratif-Musikal di Padang

Sebarkan artikel ini
Ketua DPD PDI Perjuangan (Sumbar), Alex Indra Lukman. (Foto: Istimewa)

SERUNI.CO – Memperingati 124 tahun kelahiran Mohammad Hatta, PDI Perjuangan Sumatera Barat (Sumbar) bersama Komunitas Talago Buni dan Yayasan Hatta menggelar pertunjukan naratif-musikal bertajuk Membaca Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau.

Acara ini berlangsung pada Minggu malam (30/8/2026) di halaman Kantor PDI Perjuangan Kota Padang, Jalan Sumatera.

Agenda ini digelar bukan sekadar agenda seremoni mengenang sang Proklamator. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang refleksi kebudayaan untuk membaca kembali perjalanan kebangsaan Minangkabau serta menggali nilai-nilai perjuangan warisan Bung Hatta dan Bung Karno yang tetap relevan bagi masyarakat Indonesia saat ini.

Putri bungsu Bung Hatta sekaligus Ketua Yayasan Hatta, Halida Hatta, dijadwalkan hadir untuk menyampaikan pidato kebudayaan.

Kehadiran Halida mempertemukan ingatan keluarga dengan pembacaan kritis-kebudayaan para seniman.

Melalui sajian seni, musik, sastra, dan dokumentasi sejarah, perjalanan hidup Bung Hatta tidak hanya ditempatkan sebagai catatan politik, tetapi juga dipahami lewat pengalaman sosial-budaya Minangkabau.

Penyusunan narasi dan penyutradaraan pertunjukan dipercayakan kepada budayawan nasional Edy Utama.

Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan (Sumbar) yang juga anggota DPR RI, Alex Indra Lukman, menegaskan pentingnya meneladani integritas dan dedikasi Bung Hatta.

“Kita perlu untuk tetap belajar dari sejarah, terutama dari pemikiran-pemikiran dan perilaku tokoh yang relevan untuk kemajuan bangsa dan negara. Apalagi Bung Hatta, tidak hanya seorang pemikir yang meninggalkan jejak karya tulis, tetapi juga meninggalkan sikap hidup yang sangat patut diteladani,” ujar Alex.

Baca Juga  Tiga Petani Agam Tersambar Petir, Satu Orang Dilaporkan Meninggal Dunia

Menurut Alex, di tengah perubahan zaman, sejarah tidak cukup hanya disimpan sebagai catatan masa lalu, melainkan harus terus digali nilai-nilainya untuk menjawab tantangan hari ini.

Tiga Tonggak Perjuangan Bung Hatta

Budayawan Edy Utama menyampaikan bahwa peringatan momen kelahiran Bung Hatta semestinya tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan.

Tradisi intelektual, keteladanan, serta rasa cinta Bung Hatta pada ilmu pengetahuan melahirkan karakter pemimpin yang arif, religius, bersahaja, disiplin, bermartabat, dan berorientasi pada rakyat.

“Kalau boleh digambarkan, sekurang-kurangnya ada tiga tonggak perjuangan yang melekat pada diri Bung Hatta dan terus mendapat perhatian beliau sampai akhir hayat, yakni pendidikan bangsa, ekonomi kerakyatan, dan demokrasi,” kata Edy Utama.

Edy menjelaskan, perhatian Bung Hatta terhadap pendidikan berfokus pada tanggung jawab kelompok terpelajar dalam memajukan bangsa.

Pada ranah ekonomi, beliau mendorong koperasi sebagai fondasi kesejahteraan sosial. Sedangkan dalam kehidupan bernegara, demokrasi ditempatkan sebagai landasan utama.

Mengenai pemilihan tema “Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau”, Edy menilai ada kebutuhan mendesak untuk merawat kembali wawasan kebangsaan yang mulai menyempit dalam kehidupan masyarakat Minangkabau saat ini.

Gagasan Bung Hatta dijadikan pintu masuk untuk membaca ulang hubungan historis Minangkabau dengan Indonesia.

“Kesadaran wawasan kebangsaan dan kenegaraan ini terasa mulai menyempit dalam kehidupan orang Minangkabau,” tuturnya.

Baca Juga  Kebakaran di Palupuh Agam Ludeskan Rumah Permanen dan Satu Unit Mobil

Enam Bagian Pertunjukan dan Dokumentasi Kebudayaan

Pertunjukan naratif-musikal ini dikemas dalam enam bagian yang didukung oleh latar visual dokumen sejarah:

  1. Nilai Dasar Minangkabau: Mengangkat tradisi egaliter, demokrasi, kegotongroyongan, dan kehidupan kolektif sebagai modal sosial karakter yang kosmopolit.
  2. Tradisi Merantau: Memotret perantauan intelektual sebagai ruang tumbuh lahirnya para tokoh besar.
  3. Tokoh Bangsa Asal Minang: Menampilkan jajaran tokoh seperti Haji Agus Salim, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Muhammad Yamin, Rohana Kudus, hingga Chairil Anwar dengan ragam ideologinya.
  4. Ketokohan Bung Hatta: Mengulas pemikiran dan perjuangan Bung Hatta lewat orasi musikal, dendang, serta visual sejarah bersama Soekarno.
  5. Kritik Minangkabau Kontemporer: Potret kritis-konstruktif terhadap kondisi kebangsaan saat ini guna menginspirasi generasi muda.
  6. Penutup: Fragmen naratif-musikal untuk menggugah kembali kesadaran berbangsa dan bernegara.

Acara ini turut melibatkan para penyair dan komunitas seni Sumatera Barat, serta seniman dan akademisi seperti Muhammad Halim, Susandra Jaya, Admiral, Emri, Risyud Rahman, Febrianti, Hasanawi, Anna Amelia Putri, Sendi Oryza, Dede Primayoza, Adria Catri Tamsin, hingga Zamzami Ismail.

Untuk memperpanjang jangkauan pesan, panitia memproduksi satu video dokumenter, 10 video pendek media sosial, serta katalog pascaacara.

Melalui seni pertunjukan ini, warisan pemikiran Bung Hatta diharapkan terus hidup dan diperbincangkan oleh generasi masa kini. (*)