Ekonomi

Lompatan Harga Saham BACH Melesat 15,34 Persen

×

Lompatan Harga Saham BACH Melesat 15,34 Persen

Sebarkan artikel ini

SERUNI.CO – Pergerakan harga saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatatkan lonjakan tajam sebesar 15,34 persen hingga menyentuh angka Rp1.015 per lembar pada sesi perdagangan Senin (3/8/2026).

Capaian tersebut mencerminkan kenaikan kumulatif sebesar 129 persen dari harga penawaran umum perdana (initial public offering) yang semula ditawarkan pada level Rp442 per lembar.

Volume perdagangan saham emiten yang bergerak di bidang pendukung infrastruktur telekomunikasi ini membukukan angka transaksi sebanyak 537,62 juta saham dengan frekuensi 51.127 kali, serta mencatatkan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp520,45 miliar.

Pada hari yang sama, pemodal asing membukukan aksi beli bersih (net buy) mencapai Rp10,06 miliar, sehingga mengakumulasi total net buy asing hingga Rp79,21 miliar sepanjang satu pekan terakhir.

Penguatan harga saham perseroan yang baru resmi melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 8 Juli 2026 ini berjalan selaras dengan besarnya potensi pertumbuhan pada industri penunjang telekomunikasi.

Ekspansi jaringan 5G, percepatan transformasi digital, hingga kebutuhan layanan komputasi awan (cloud computing) serta kecerdasan buatan (artificial intelligence) menjadi motor penggerak utama pada sektor ini.

Pengamat dari CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai bahwasanya ruang pertumbuhan industri infrastruktur telekomunikasi terbentang amat luas dalam rentang tiga hingga lima tahun mendatang.

Kebutuhan sarana menara dan jaringan serat optik diyakini terus melonjak seiring tingginya permintaan pasar dari segmen individu maupun korporasi.

Baca Juga  Performa Impresif, Laba Bank Muamalat Tahun 2025 Tumbuh Signifikan 47,5 Persen

“Masih besar 3-5 tahun ke depan, kebutuhan untuk tower dan fiber optic masih tinggi karena kebutuhan customer dan corporate yang terus meningkat,” kata Dipo Satria Ramli, Pengamat CORE Indonesia.

Dipo melengkapi keterangannya bahwa tahapan transisi dari jaringan 4G menuju 5G menuntut kerapatan menara pemancar yang lebih tinggi, salah satunya melalui penambahan microcells di berbagai pelosok Tanah Air.

“Sangat strategis karena mereka adalah penentu keandalan dan keberlanjutan infrastruktur telekomunikasi dan ekonomi digital,” ujar Dipo Satria Ramli, Pengamat CORE Indonesia.

Ia juga menggarisbawahi perihal pasokan arus listrik yang belum konsisten beserta saluran serat optik yang belum saling terhubung secara terintegrasi sebagai kendala utama di area daerah.

“Tanpa reliability dari internet dan telekomunikasi, ekonomi digital tidak bisa terbangun,” kata Dipo Satria Ramli, Pengamat CORE Indonesia.

Dukungan Daya BTS dan Aksi Masuknya Pengendali Baru

Di lain sisi, ketersediaan pasokan energi listrik menjadi prasyarat mutlak dalam menyokong operasional Base Transceiver Station (BTS) di seluruh kawasan Indonesia.

“Pemilihan pemasangan BTS yang pertama dilihat ketersediaan sistem daya dan keandalannya. Jadi merupakan prioritas utama dalam pembangunan infrastruktur BTS,” kata Ian Yosef M. Edward, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca Juga  Manulife Indonesia dan Danamon Perkenalkan Proteksi Prima Fleksi Ekstra

Meningkatnya minat investor terhadap emiten distributor resmi produk Himoinsa sekaligus pemegang merek Austin Power System ini juga dipicu oleh dinamika struktur kepemilikan modal.

Langkah pemegang saham baru, yakni masuknya Grup Djarum melalui PT Global Teknologi Perkasa, menjadikan entitas tersebut sebagai pengendali anyar perseroan.

“Masuknya Grup Djarum memang menjadi katalis yang meningkatkan perhatian investor terhadap BACH. Namun, saya melihat pasar juga mulai memahami model bisnis perseroan secara lebih utuh,” kata Fauzan Luthsa, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb.

Fauzan memaparkan bahwa perseroan tidak sebatas menjajakan produk mesin genset semata, melainkan telah mengelola sekitar 41.000 site telekomunikasi dalam lanskap ekosistem nasional.

“Menurut saya, pemahaman inilah yang mulai berkembang di pasar,” ujar Fauzan Luthsa, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb.

Evolusi pandangan para pelaku pasar terhadap peta bisnis perseroan ini pada akhirnya menjadi penopang utama bagi tren positif pergerakan harga saham di lantai bursa.

“Pada akhirnya pasar tetap akan melihat kinerja perusahaan. Namun, perubahan cara pandang terhadap model bisnis BACH menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong meningkatnya perhatian investor,” kata Fauzan Luthsa, Pengamat Pasar Modal Menteng Kleb. (*)