SERUNI.CO – Kepastian mengenai jadwal seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2026 akhirnya menemui titik terang.
Badan Kepegawaian Negara (BKN) mengonfirmasi bahwa rangkaian proses seleksi bagi para calon abdi negara tersebut dijadwalkan akan dimulai pada bulan Mei mendatang.
Informasi penting ini disampaikan langsung oleh Mohammad Ridwan, Plt Direktur Perencanaan Kebutuhan Aparatur Sipil Negara (ASN) BKN, dalam sebuah konferensi pers daring yang digelar Kamis (16/4/2026).
Tahapan Rilis Formasi dan Jadwal Pendaftaran
Langkah awal dalam rekrutmen CPNS tahun ini akan dimulai dengan pengumuman formasi.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Rini Widyantini, diperkirakan akan merilis daftar kebutuhan formasi untuk berbagai instansi pada akhir Mei 2026.
Setelah rincian formasi tersedia, pemerintah akan membuka tahap pendaftaran yang diprediksi jatuh pada bulan Juni 2026.
Mohammad Ridwan menjelaskan alur waktu tersebut sebagai berikut:
“Sehingga pada akhir bulan Mei tahun ini tahun 2026, mestinya formasi untuk masing-masing instansi itu bisa dikeluarkan oleh Menteri PAN-RB dan proses seleksi ASN-nya bisa mulai berlangsung setelah itu yaitu bulan Juni 2026.”
Rasio ASN Indonesia: Masih di Bawah Malaysia dan Thailand
Dalam kesempatan yang sama, Ridwan memaparkan data menarik mengenai perbandingan jumlah ASN dengan total populasi penduduk di Indonesia.
Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 6,7 juta ASN dari total 285 juta penduduk. Hal ini menunjukkan rasio ASN di Indonesia berada di angka 2,4 persen, atau setara dengan 23,56 ASN per 1.000 penduduk.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga di Asia Tenggara, angka tersebut tergolong kecil:
-
Malaysia: Memiliki 1,7 juta ASN dengan penduduk 34 juta jiwa (Rasio 5 persen).
-
Thailand: Memiliki 2,7 juta ASN dengan penduduk 71 juta jiwa (Rasio 3,8 persen).
Target Peningkatan Melalui Seleksi CPNS 2026
Melalui pengadaan CPNS 2026, pemerintah menargetkan peningkatan rasio ASN guna mendukung program Asta Cita.
Target yang ingin dicapai adalah menaikkan rasio menjadi 3 hingga 3,4 persen, atau sekitar 30-34 ASN per 1.000 penduduk.
“Bahwa untuk menopang Asta Cita, Indonesia perlu bergerak dari rasio 2,4 persen menjadi 3 atau 3,4 persen,” terang Ridwan. (*)






